JembranaExpress.Com - DPRD Bali mengambil langkah penghematan anggaran dengan memangkas sejumlah pos belanja, termasuk perjalanan dinas, bahan bakar minyak (BBM), serta konsumsi rapat. Total dana yang direfokus mencapai sekitar Rp21 miliar dan akan dialihkan untuk mendukung perbaikan infrastruktur di Bali.
Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya atau Dewa Jack, menyatakan efisiensi ini sebagai respons terhadap kondisi ekonomi global yang terdampak konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Situasi ini mendorong penghematan di berbagai sektor keuangan negara.
Baca Juga: Kakek Tewas Hanyut di Tukad Aye Buleleng, Cucu 6 Tahun Masih Hilang
“Iya, ada penghematan di DPRD sendiri, mencapai Rp21 miliar dari perjalanan dinas,” kata Dewa Jack, Senin (6/4).
Pemangkasan anggaran akan diterapkan dalam APBD Induk 2026 melalui refocusing. Hanya kegiatan mendesak, seperti pembahasan rancangan peraturan daerah (ranperda) dan inspeksi mendadak (sidak), yang tetap dilaksanakan.
“Melihat situasi ke depan sampai September menuju Oktober, itu sekitar Rp21 miliar,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris DPRD Bali, Ketut Nayaka, menyebut penghematan mencapai sekitar 10 persen dari anggaran. Dana hasil efisiensi ini akan mendukung program prioritas seperti perbaikan fungsi kawasan hutan, pengelolaan sampah, serta perbaikan infrastruktur jalan.
Baca Juga: Larangan Pembakaran Sampah di Bali, Koster: Hanya Sampah Residual yang Dilarang
Selain efisiensi, kebijakan kerja dari rumah (WFH) mulai diterapkan Jumat, 10 April 2026, mengikuti arahan pemerintah pusat. Namun, kepala OPD atau pejabat eselon II tetap wajib hadir di kantor. Nayaka menekankan WFH difokuskan untuk menunjang pekerjaan, bukan kegiatan di luar tugas kedinasan.
“WFH mengikuti pusat. Yang tetap di kantor eselon II, kemungkinan didampingi kabag agar tidak sendiri. Sedangkan anggota DPRD menyesuaikan jika ada kunjungan,” jelasnya.
Nayaka menegaskan penghematan anggaran tidak akan mengurangi kualitas kinerja DPRD Bali. Panitia khusus (pansus) seperti Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP) tetap menjalankan tugas lapangan secara intensif. Penggunaan rapat daring seperti Zoom juga dimaksimalkan untuk efisiensi operasional.
Baca Juga: 29 Warga Terdampak Banjir di Jembrana Dapat Layanan Kesehatan Gratis
“Apalagi sekarang ada zoom meeting. Itu cukup membantu efisiensi. Kalau BBM dikurangi kan ada WFA, kayak waktu Covid-19,” tutupnya.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa