JembranaExpress.Com - Scarf dan hijab kini tak lagi sekadar pelengkap busana, melainkan medium ekspresi sekaligus ruang bercerita.
Semangat itu diwujudkan oleh Hijasmita, brand fesyen asal Jakarta Timur yang mengangkat keindahan serta kearifan lokal Indonesia melalui desain scarf dan outer bergaya modern.
Didirikan oleh Mita pada awal 2019, Hijasmita lahir dari keberanian mengambil keputusan besar.
Baca Juga: Refleksi 44 Tahun UNMAS, Rektor Tegaskan Komitmen Pendidikan Berbudaya
Setelah resign dari pekerjaannya pada akhir 2018, Mita memilih membangun usaha sendiri di tengah tren hijab printing yang tengah berkembang. Namun ia tak ingin sekadar mengikuti tren.
Nama Hijasmita diambil dari nama Asmita dan dimaknai sebagai simbol hijrah atau perubahan. Nama tersebut merepresentasikan perjalanan Mita dari karyawan menjadi wirausaha.
Sejak awal, Hijasmita tidak hanya menjual produk fesyen, tetapi juga membawa pesan transformasi dan pengembangan diri.
Untuk memperkuat karakter brand, Mita aktif mengikuti pelatihan dan program pembinaan guna menemukan identitas bisnis yang kuat dan berkelanjutan.
Baca Juga: Duduk Lesehan Bareng Warga, De Gadjah Rawat Basis Politik Lewat Buka Puasa di Denpasar
Produk Hijasmita berfokus pada scarf yang fleksibel digunakan sebagai hijab, outer, waspina, hingga diolah menjadi turunan seperti pouch dan scrunchie.
Seluruh proses produksi mengedepankan prinsip keberlanjutan dengan memanfaatkan sisa kain agar tidak terbuang.
“Scarf itu sangat fleksibel, tidak hanya sebagai hijab, tetapi juga bisa menjadi outer, waspina, hingga diolah dari sisa kainnya. Saya ingin setiap bahan yang diproduksi tetap dimanfaatkan agar tidak terbuang sia-sia,” ujar Mita.
Baca Juga: Misteri Kematian WN Swiss di Jembrana, Keluarga Tolak Autopsi dan Pilih Kremasi
Ciri khas Hijasmita terletak pada motif yang mengangkat ornamen lokal, khususnya dari Jakarta seperti gigi balang, langkan, padi, serta flora Nusantara yang diterjemahkan dalam desain modern.
Karya-karyanya telah tampil di berbagai pameran, masuk ke department store, menjalin kemitraan hingga Bali, bahkan menembus pasar internasional seperti Korea dan Malaysia.
Perjalanan Hijasmita memasuki babak baru saat Mita bergabung dengan Rumah BUMN Jakarta dan mengikuti program BRIncubator BRI pada 2023.
Baca Juga: 20 Pejabat Utama Polres Jembrana Ikuti Tes Urine, Tegaskan Komitmen Bebas Narkoba
Melalui program tersebut, Mita memperoleh pendampingan intensif yang membantu arah pengembangan usahanya menjadi lebih terstruktur dan strategis.
Materi yang diberikan dinilai aplikatif karena langsung membahas tantangan nyata pelaku usaha, mulai dari pemasaran, branding, digitalisasi, hingga pengelolaan keuangan.
“Materinya sangat aplikatif. Kita nggak cuma dikasih teori, tapi benar-benar diajak diskusi sesuai masalah usaha yang lagi kita hadapi. Jadi apa yang dipelajari itu langsung kepakai di usaha aku sehari-hari,” kata Mita.
Dari proses evaluasi, ia menyadari pentingnya fokus dalam pengembangan produk dan penentuan target pasar.
Baca Juga: Wabup Ipat Ajak ASN dan Warga Jadikan Nyepi–Idul Fitri 2026 Bukti Nyata Toleransi di Jembrana
Salah satu langkah strategis yang diambil adalah memaksimalkan produk outer yang memiliki pasar lebih luas, tanpa meninggalkan identitas budaya sebagai ciri khas brand.
Selain peningkatan kapasitas bisnis, Mita juga merasakan manfaat dari perluasan jejaring dan kesempatan mengikuti pameran yang difasilitasi BRI, sehingga akses pasar semakin terbuka dan rasa percaya diri meningkat.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menjelaskan bahwa kehadiran Rumah BUMN BRI ditujukan sebagai wadah kolaboratif bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing bisnis.
Menurutnya, pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Bank Rakyat Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Baca Juga: Bupati Kembang Tegaskan Lomba Ogoh-Ogoh 2026 Tanpa Titipan, Penilaian Harus Transparan
Hingga saat ini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN serta menggelar lebih dari 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia.
“Melalui peningkatan literasi, digitalisasi, dan kemudahan akses, UMKM didorong untuk memperkuat daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar. Kisah pelaku usaha Hijasmita jadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha lainnya di berbagai daerah,” pungkasnya.
Ke depan, Mita berharap Hijasmita terus berkembang secara konsisten dan mampu melangkah lebih jauh, termasuk memperluas penetrasi pasar internasional.
Baginya, pendampingan yang diterima bukan hanya soal ilmu, tetapi juga dukungan moral yang membuatnya lebih kuat menghadapi tantangan bisnis.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa