JembranaExpress.Com - Efek melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga menjelang akhir Mei 2026 membuat para peternak di Kabupaten Tabanan mulai khawatir.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan harga pakan ternak, terutama bagi peternak ayam yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Baca Juga: Heboh Isu “Pocong Jadi-Jadian” di Air Kuning Jembrana, Polisi Pastikan Hoaks
Salah satunya dirasakan peternak ayam di Tabanan yang hingga kini masih menggunakan bahan baku impor untuk produksi pakan ternak ayam.
Koordinator Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia Kabupaten Tabanan, I Wayan Sukasana, menjelaskan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga bahan baku pakan sebenarnya sudah dirasakan para peternak sejak awal bulan lalu.
“Pasalnya kami masih menggunakan bahan baku impor dalam membuat pakan ternak ayam, sehingga saat ini membuat para peternak di Tabanan khawatir,” ungkapnya, Minggu (24/5/2026).
Selain pakan ternak, melemahnya nilai tukar rupiah juga diperkirakan berdampak terhadap harga bibit ayam, vitamin, hingga obat-obatan ternak lainnya.
Menurut Sukasana, sebagian besar bahan baku untuk produksi bibit, vitamin, dan obat-obatan ternak masih bergantung pada impor. Bahkan beberapa jenis produk masih didatangkan langsung dari luar negeri.
Baca Juga: Cegah Kebocoran Pajak, Pemkab Karangasem Luncurkan Sistem Digital New iPOS MBLB
“Karena itu, jika rupiah terus melemah, kami khawatir keuntungan semakin menipis, terutama di tengah harga jual ayam yang belum stabil,” lanjutnya.
Sementara itu, peternak asal Baturiti, Nyoman Merta, mengaku harga jual ayam di tingkat peternak saat ini masih berada di bawah biaya produksi.
Menurutnya, harga ayam hidup kini kembali turun menjadi Rp22.500 per kilogram.
Padahal pada awal Mei lalu, harga ayam sempat menyentuh angka Rp24 ribu per kilogram dan bertahan selama dua pekan. Namun memasuki minggu ketiga Mei, harga kembali mengalami penurunan.
“Dengan turunnya harga ayam ini, banyak peternak berpotensi merugi karena biaya operasional yang melambung namun tidak diikuti harga jual yang sesuai,” tambahnya.
Baca Juga: Tradisi Muayon di Desa Cempaga Tetap Lestari, Jadi Media Pendidikan Budaya Generasi Muda
Para peternak berharap kondisi nilai tukar rupiah segera stabil agar harga bahan baku impor tidak semakin membebani biaya produksi peternakan ayam di daerah.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa