Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Di Balik Macet Gilimanuk, Gang Warga Berubah Jadi Pasar Takjil: Pedagang Raup Hingga Rp700 Ribu Sehari

I Gde Riantory Warmadewa • Senin, 16 Maret 2026 | 09:22 WIB
Warung takjil dadakan milik Ibu Wanda salah satu warga di gang 1, Lingkungan Asih, Kelurahan Gilimanuk, Jembrana.
Warung takjil dadakan milik Ibu Wanda salah satu warga di gang 1, Lingkungan Asih, Kelurahan Gilimanuk, Jembrana.

 

JembranaExpress.Com - Deretan kendaraan yang mengular menuju pelabuhan, klakson yang sesekali terdengar, serta para pemudik yang turun dari mobil untuk sekadar meregangkan kaki menjadi pemandangan biasa di sekitar Pelabuhan Gilimanuk saat arus mudik.

Namun di balik kemacetan yang melelahkan bagi para pelintas jalan, ada cerita berbeda dari gang-gang kecil di Kelurahan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali.

Gang sempit yang biasanya lengang kini berubah menjadi pasar takjil dadakan yang ramai didatangi pemudik.

Baca Juga: Saat Antrean Mudik Memanas, Tim Dokkes Polres Jembrana Sigap Tolong Pemudik

Warga setempat memanfaatkan antrean kendaraan menuju pelabuhan dengan membuka lapak kecil di depan rumah atau di pinggir gang.

Aneka makanan berbuka puasa dijajakan kepada para pemudik yang terjebak macet menjelang waktu berbuka.

Salah satu gang yang paling ramai adalah Gang 1 Lingkungan Asih. Jalur pemukiman ini kerap menjadi jalan alternatif bagi kendaraan kecil yang ingin mendekati pelabuhan.

Melihat arus kendaraan yang padat, warga setempat pun memanfaatkan situasi dengan membuka lapak takjil.

Baca Juga: Di Balik Macet 35 Km Menuju Gilimanuk: Kisah Warga Kaliakah Jual Nasi Jinggo hingga Jadi Ojek Dadakan Bertarif Rp 150 Ribu Sekali Trip

Di sepanjang gang terlihat meja-meja kecil berisi kolak, bubur, es buah, minuman dingin, hingga berbagai lauk pauk.

Aroma makanan bercampur dengan suasana Ramadan yang hangat.

Para pemudik yang terjebak antrean kendaraan pun banyak yang turun untuk membeli makanan berbuka.

Di antara para pedagang itu, ada Wanda (40), warga setempat yang sejak sore sibuk melayani pembeli.

Ibu tiga anak tersebut mengaku setiap musim mudik memang menjadi momen yang paling ditunggu oleh warga sekitar.

Baca Juga: Arus Mudik Denpasar–Gilimanuk Macet Parah, Antrean Kendaraan Mengular 30 Km Hingga Depan Polsek Negara

“Momen mudik ini yang paling ditunggu warga. Yang tadinya tidak berjualan, jadi ikut memanfaatkan peluang yang ada,” ujarnya sambil tersenyum.

Biasanya Wanda hanya berjualan kecil-kecilan di teras rumah selama bulan Ramadan. Namun ketika arus mudik mulai memuncak, ia memindahkan lapaknya ke pinggir gang untuk lebih dekat dengan pemudik.

Keputusan itu ternyata membawa hasil yang cukup besar. Dalam sehari, Wanda bisa meraup omzet hingga Rp500 ribu sampai Rp700 ribu dari penjualan takjil.

Uang tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Ia juga menyisihkan sebagian untuk tabungan mudik ke kampung halamannya setelah Lebaran.

Baca Juga: Lonjakan Pemudik dan Truk Sumbu Tiga Picu Kemacetan Panjang di Jalur Gilimanuk, Antrean Kendaraan Sempat Mengular hingga 25 Km

Bagi Wanda dan warga lain, kemacetan arus mudik menjadi kesempatan untuk menambah penghasilan di tengah meningkatnya kebutuhan selama Ramadan.

Bagi para pemudik, keberadaan pedagang takjil di gang pemukiman tersebut menjadi penyelamat di tengah perjalanan panjang.

Salah satunya Andre, pemudik asal Banyuwangi yang memanfaatkan waktu menunggu antrean kendaraan untuk membeli makanan berbuka puasa.

“Iya, mumpung dekat beli takjil di sini sambil persiapan menunggu waktu berbuka,” katanya.

Beberapa pemudik bahkan memilih berjalan kaki masuk ke gang untuk mencari makanan atau sekadar beristirahat sejenak dari perjalanan panjang.

Hingga saat ini, volume kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk masih terus meningkat.

Baca Juga: Masikian Fest 2026 Tetap Digelar di Tengah Efisiensi Anggaran, Peserta Justru Meningkat

Jalur alternatif di kawasan pemukiman seperti Gang 1 dan Gang 2 mulai dipadati kendaraan pribadi dan mobil kecil yang mencari jalan pintas menuju pelabuhan.

Sementara itu, di jalur utama Denpasar–Gilimanuk, antrean kendaraan besar seperti bus dan truk masih terlihat mengular hingga sekitar tiga kilometer dari pintu masuk pelabuhan.

Di tengah kepadatan kendaraan dan perjalanan mudik yang melelahkan, gang-gang kecil di Gilimanuk justru menghadirkan cerita lain tentang warga yang berusaha menjemput rezeki dari secangkir es buah, seporsi kolak, dan hangatnya takjil Ramadan.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#macet gilimanuk #mudik bali jawa #cerita mudik gilimanuk #pelabuhan gilimanuk #Arus Mudik 2026