JembranaExpress.Com - Langit pesisir tak pernah benar-benar sepi. Di sanalah ombak datang dan pergi, membawa cerita tentang perjalanan, harapan, dan juga pengabdian.
Bagi I Made Sukawijaya, laut bukan sekadar hamparan air melainkan ruang panjang tempat ia meniti jalan hidupnya.
Di awal tahun 2026, Kepolisian Negara Republik Indonesia kembali melakukan mutasi besar-besaran.
Di antara deretan nama yang bergeser posisi, Sukawijaya muncul sebagai salah satu sosok yang menyita perhatian.
Ia dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur Kepolisian Perairan (Dirpolair) di Korps Kepolisian Perairan dan Udara sebuah posisi yang tidak hanya strategis, tetapi juga sarat tanggung jawab.
Namun, jabatan itu bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba.
Baca Juga: Nyepi dan Gagasan “Bumi Beristirahat”: Perspektif Sosiologi Lingkungan dan Keberlanjutan
Sebagai putra daerah Jembrana, wilayah yang tak jauh dari garis pantai, Sukawijaya tumbuh dalam lanskap yang akrab dengan laut.
Barangkali dari situlah kedekatannya dengan dunia perairan mulai terbangun pelan, tapi pasti.
Kariernya di kepolisian tidak langsung berada di balik meja. Ia ditempa oleh ombak dan angin laut, dimulai saat dipercaya menjadi Komandan Kapal A2-1 pada 2010.
Di atas kapal patroli, ia belajar bahwa menjaga laut bukan hanya soal keberanian, tetapi juga ketelitian, kesabaran, dan ketegasan dalam mengambil keputusan.
Laut mengajarkan banyak hal tentang ketidakpastian, tentang membaca situasi, dan tentang tanggung jawab yang tak bisa ditunda.
Baca Juga: Perjalanan Mudik Berakhir Tragis, Ibu 39 Tahun Meninggal di Pelabuhan Gilimanuk
Perjalanan kariernya berlanjut ke Kepulauan Riau, salah satu wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan negara lain.
Di sana, ia tidak hanya menghadapi gelombang laut, tetapi juga kompleksitas kejahatan lintas batas.
Dari Kepala Satuan Patroli hingga menangani penegakan hukum di perairan, Sukawijaya berada di garis depan menghadapi berbagai persoalan: illegal fishing, penyelundupan, hingga pelanggaran wilayah.
Tak banyak sorotan, tak banyak sorak. Namun justru di situlah karakter kepemimpinannya terbentuk tenang, terukur, dan berorientasi pada tugas.
Pengalaman panjang di lapangan kemudian membawanya memimpin di wilayah darat sebagai Kapolres Buleleng.
Di sana, ia menghadapi dinamika yang berbeda masyarakat dengan latar belakang beragam, serta tantangan keamanan yang lebih kompleks.
Namun satu hal tetap sama: prinsipnya tentang disiplin, tanggung jawab, dan pelayanan.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2026 Makin Nyaman, BRI Dirikan Posko BRImo di 5 Rest Area Tol Jakarta–Jawa
Kini, saat ia dipercaya berada di tingkat nasional, tantangan yang dihadapi jauh lebih besar. Laut Indonesia yang luas menyimpan potensi sekaligus kerawanan dari kejahatan konvensional hingga dinamika geopolitik.
Sebagai Dirpolair, Sukawijaya tidak hanya dituntut menjaga keamanan, tetapi juga mampu mengintegrasikan teknologi dan koordinasi lintas sektor dalam setiap operasi.
Bagi masyarakat Bali, khususnya Jembrana, kiprah Sukawijaya memiliki makna tersendiri.
Ia bukan hanya seorang jenderal, tetapi juga representasi bahwa anak daerah mampu menembus panggung nasional melalui kerja keras dan konsistensi.
Perjalanannya mencerminkan satu hal sederhana namun kuat: bahwa pengabdian tidak selalu harus terlihat, tetapi dampaknya bisa dirasakan.
Baca Juga: Diskusi “Menggugat MBG yang Mulia”: Pakar Ungkap 14 Masalah Program Makan Bergizi Gratis
Di tengah tantangan keamanan maritim yang terus berkembang, sosok seperti Sukawijaya menjadi penting. Ia adalah gambaran perwira yang lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar teori.
Dan mungkin, seperti laut yang tak pernah berhenti bergerak, perjalanan pengabdiannya pun belum usai.
Di balik seragam dan jabatan, ada satu hal yang tetap sama komitmen untuk menjaga, melindungi, dan memastikan bahwa perairan Indonesia tetap aman bagi generasi yang akan datang.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa