Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Jejak yang Tak Hilang: FOTO Bali Festival 2026 Hadirkan Suara Dunia Lewat Lensa

I Gde Riantory Warmadewa • Selasa, 7 April 2026 | 03:42 WIB
“Timeland” karya Gianluca Lanciai yang merupakan eksplorasi visual tentang umur panjang di Sardinia, Italia. (ist)
“Timeland” karya Gianluca Lanciai yang merupakan eksplorasi visual tentang umur panjang di Sardinia, Italia. (ist)

 

JembranaExpress.Com - Di Bali, sebuah gambar tidak selalu berhenti saat tombol kamera ditekan. Ia hidup, bergerak, dan perlahan membentuk cara manusia mengingat dunia.

 

Semangat itulah yang diusung oleh FOTO Bali Festival 2026, yang kembali digelar di Nuanu Creative City pada 3 Juni hingga 12 Juli 2026.

Baca Juga: Kisah Onih Suryati: Dari Limbah Jadi Cuan, Perempuan Ini Sukses Berdaya Lewat Program Ultra Mikro BRI

Dari hampir 700 submisi yang datang dari lebih dari 80 negara, hanya 36 seniman yang terpilih. Mereka berasal dari 24 negara, membawa beragam latar belakang, pendekatan, dan cerita namun bertemu dalam satu bahasa yang sama: fotografi.

 

Di antara mereka, ada nama-nama seperti Akshay Mahajan, Alessandro Bo, hingga perwakilan Indonesia seperti Aprillio Abdullah Akbar dan Wimadetra. Delapan seniman Indonesia turut ambil bagian, membawa perspektif lokal ke dalam percakapan global.

 

Namun festival ini bukan sekadar tentang siapa yang terpilih. Ia tentang apa yang tertinggal.

 

Mengusung tema Afterimage, karya-karya yang dipamerkan mengeksplorasi bagaimana sebuah citra tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus hidup dalam ingatan, dalam sejarah, dan dalam pengalaman kolektif manusia.

Baca Juga: Wamen ATR/BPN Ossy Dermawan: Data Akurat Jadi Kunci Selesaikan Masalah Pertanahan

Ada yang bercerita tentang memori personal, ada pula yang menyinggung isu keberlanjutan hingga identitas. Setiap karya seperti lapisan waktu mengajak pengunjung untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan.

 

“Kami ingin membuka ruang percakapan yang lebih luas,” ujar Kelsang Dolma. Baginya, festival ini adalah titik temu berbagai perspektif, tanpa batas geografis maupun generasi.

 

Proses seleksi pun dirancang untuk menjaga keragaman itu. Dengan melibatkan kurator seperti Kurniadi Widodo dan Putu Sridiniari, setiap karya dibaca dari sudut pandang yang berlapis.

 

“Fotografi tidak pernah benar-benar mengakhiri sebuah momen,” ujar Putu. “Ia terus beredar dan membentuk cara kita memahami masa kini.”

Baca Juga: Koster Tekankan Kualitas, Turyapada Tower Siap Jadi Wisata “Di Atas Awan”

Festival ini juga mendapat dukungan dari Wonderful Indonesia, yang melihat peran penting seni dalam memperkuat ekosistem kreatif dan dialog budaya.

 

Bagi Bali, ini bukan sekadar acara seni. Ini adalah ruang pertemuan antara lokal dan global, antara tradisi dan eksperimen, antara yang terlihat dan yang terasa.

 

Di tengah gemuruh pariwisata, FOTO Bali Festival menghadirkan jeda. Sebuah ruang di mana gambar tidak hanya dilihat, tetapi direnungkan.

Baca Juga: Kolaborasi ATR/BPN dan UIN Datokarama Palu: Mahasiswa Turun Tangan Percepat Sertifikasi Tanah Wakaf

Dan mungkin, saat pengunjung melangkah keluar dari ruang pamer, yang mereka bawa pulang bukan hanya ingatan tentang gambar-gambar itu tetapi cara baru untuk melihat dunia.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#nuanu creative city #foto bali festival 2026 #fotografi #festival fotografi bali #fotografi kontemporer