JembranaExpress.Com - Pagi di Jembrana biasanya dimulai seperti di banyak tempat lain, aktivitas rumah tangga, suara kendaraan, dan rutinitas harian. Namun di Banjar Warnasari Kelod, ada satu kebiasaan yang perlahan mengubah wajah lingkungan: memilah sampah dari rumah.
Bagi warga di sini, sampah bukan lagi sesuatu yang harus dibuang begitu saja. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang bernilai bahkan bisa menjadi tabungan.
Baca Juga: Bencana Beruntun di Jembrana: Longsor Tutup Jalan, Banjir Rendam Permukiman
Di balik perubahan itu, ada sosok I Kadek Sri Rama Usmantara yang mendorong lahirnya sistem pengelolaan sampah berbasis insentif dan disinsentif. Sebuah pendekatan yang sederhana, namun berdampak besar.
“Kalau warga memilah sampah, mereka hanya membayar residunya saja. Bahkan bisa tertutup dari hasil penjualan sampah,” ujarnya.
Sebaliknya, warga yang tidak memilah sampah dikenakan biaya lebih. Skema ini perlahan membentuk kebiasaan baru, bahwa tanggung jawab lingkungan juga punya konsekuensi ekonomi.
Namun yang membuat sistem ini berbeda adalah sentuhan digitalnya.
Melalui platform Banjar Pay yang bekerja sama dengan Bank BPD Bali, setiap nilai ekonomi dari sampah langsung masuk ke rekening warga. Dari sana, uang tersebut bisa digunakan untuk membayar listrik, pajak, bahkan iuran BPJS.
Baca Juga: Jejak yang Tak Hilang: FOTO Bali Festival 2026 Hadirkan Suara Dunia Lewat Lensa
Sampah yang dulu dianggap tak berguna, kini bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup.
Tak berhenti di situ, layanan HALLO NJAR juga hadir untuk mempermudah akses layanan publik. Cukup melalui WhatsApp, warga bisa mengurus berbagai keperluan bahkan petugas banjar siap datang langsung ke rumah.
Pendekatan ini membuat layanan terasa lebih dekat, lebih cepat, dan lebih inklusif.
Bagi Kadek Rama, sapaan akrabnya, kunci utama dari perubahan ini bukan sekadar teknologi atau sistem, melainkan kepercayaan.
Baca Juga: Wamen ATR/BPN Ossy Dermawan: Data Akurat Jadi Kunci Selesaikan Masalah Pertanahan
“Masalah sampah itu bukan hanya teknis. Kalau sistemnya adil dan masyarakat merasakan manfaatnya, mereka pasti ikut,” katanya.
Setiap hari, sekitar 400 kilogram sampah dihasilkan di banjar ini. Menariknya, sekitar 80 persen di antaranya memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Sampah organik diolah menjadi pupuk, sementara sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang.
Untuk mendukung itu, banjar juga membagikan puluhan unit Teba Modern dan komposter kepada warga untuk mendorong pengelolaan sampah langsung dari sumbernya.
Perubahan pun terasa nyata. Lingkungan menjadi lebih bersih, beban ekonomi warga berkurang, dan yang tak kalah penting, rasa kebersamaan semakin kuat.
Di Banjar Warnasari Kelod, sampah bukan lagi akhir dari sesuatu. Ia adalah awal, awal dari kesadaran, dari kemandirian, dan dari masa depan yang lebih berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar soal sampah, ini tentang bagaimana desa bisa berdiri di atas kakinya sendiri," pungkas Kadek Rama.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa