JembranaExpress.Com - Suasana haru dan bangga menyelimuti The Westin Resort Nusa Dua saat Universitas Mahasaraswati Denpasar (Unmas) menggelar prosesi wisuda ke-71, Jumat (17/4/2026).
Dari ratusan wisudawan, perhatian tertuju pada satu momen langka: seorang ibu dan anak kandung yang lulus bersama dari Program Magister Hukum (S2).
Baca Juga: De Gadjah Soroti Darurat Sampah Bali, Tegaskan Tanggung Jawab Ada di Daerah
Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Anastasia Sulistyawati dan putranya Dr. Putu Agung Prianta. Keduanya tampil berdampingan mengenakan toga, berjalan bersama dalam satu prosesi yang sama—sebuah simbol kuat tentang ikatan keluarga dan cinta terhadap ilmu.
Yang membuat kisah ini semakin menggetarkan, Prof. Anastasia berhasil meraih predikat Magna Cum Laude dengan IPK hampir sempurna, 3,98—tertinggi di antara seluruh lulusan Magister Hukum.
Di usia yang telah menginjak 80 tahun, pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia. Bahkan, prestasi tersebut berpotensi mencatatkan rekor sebagai lulusan S2 tertua dengan predikat tertinggi di Indonesia.
Baca Juga: Warga dan TNI Turun Tangan Bersihkan 2,5 Ton Sampah di Gilimanuk
Sebagai akademisi senior yang telah menyandang berbagai gelar di bidang arsitektur, pariwisata, hingga teologi, ia justru kembali “duduk di bangku kuliah” demi satu hal: terus belajar.
Keputusan melanjutkan studi S2 Hukum bermula dari keinginan sang anak. Namun, alih-alih hanya memberi dukungan, Prof. Anastasia memilih ikut terjun langsung.
“Keluarga kami menerapkan lifelong learning mindset. Ketika anak saya kuliah S2 Hukum, saya berpikir, masa ibu kalah? Saya harus belajar lagi dari nol,” ujarnya.
Belajar dalam satu kelas dengan anak sendiri menjadi pengalaman yang unik. Mereka tidak hanya sebagai ibu dan anak, tetapi juga sebagai rekan diskusi.
Baca Juga: Pasca Kenaikan Harga BBM, Polisi Pantau SPBU di Melaya: Stok Aman, Situasi Kondusif
“Kami saling menyemangati, saling mengoreksi catatan. Tidak ada rasa sungkan, yang ada justru saling mendukung,” tambahnya.
Bagi sang anak, keberhasilan ini bukan sekadar kelulusan, tetapi pelajaran hidup.
Dr. Putu Agung mengaku kagum melihat ibunya tetap tekun belajar di tengah kesibukan sebagai akademisi dan pimpinan institusi pendidikan.
“Beliau itu ‘power bank’ saya. Melihat Mama masih membaca, menulis tesis dengan teliti, itu luar biasa. Apalagi lulus dengan IPK 3,98,” ungkapnya.
Menurutnya, sang ibu adalah bukti bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar dan perempuan mampu menjalankan berbagai peran dengan luar biasa.
Baca Juga: Keluar Bali Makin Ketat, Polisi Sisir Penumpang dan Barang di Gilimanuk
Rektor Universitas Mahasaraswati Denpasar I Ketut Sukewati Lanang Putra Perbawa, turut memberikan apresiasi atas kisah inspiratif tersebut.
Ia menilai momen ini menjadi contoh nyata nilai pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning) yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa.
“Kisah seorang profesor yang kembali menjadi mahasiswa bersama putranya dan meraih predikat tertinggi adalah teladan kerendahan hati dan semangat belajar yang patut dicontoh,” ujarnya.
Di tengah dunia yang terus berubah, kisah ibu dan anak ini menjadi pengingat kuat bahwa pendidikan bukan sekadar fase, melainkan perjalanan seumur hidup.
Baca Juga: Nyalip dari Kiri Berujung Tragis, Pelajar SD Tewas Terlindas Truk
Wisuda kali ini bukan hanya tentang gelar akademik, tetapi juga tentang cinta, ketekunan, dan warisan nilai yang tak ternilai bahwa belajar bisa menjadi jembatan yang menguatkan hubungan keluarga, sekaligus menginspirasi banyak orang.
Dan di hari itu, di sebuah panggung wisuda di Bali, dua generasi berdiri sejajar membuktikan bahwa mimpi tidak pernah mengenal kata terlambat.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa