Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Dari Buruh Cilik hingga Pengusaha Pindang, Perjalanan Ni Wayan Suitari Menghidupkan Aroma Kusamba

IGA Kusuma Yoni • Selasa, 26 Mei 2026 | 07:30 WIB
Pengusaha pindang khas Kusamba, Ni Wayan Suitari. (I GA Kusuma Yoni/Jembrana Express)
Pengusaha pindang khas Kusamba, Ni Wayan Suitari. (I GA Kusuma Yoni/Jembrana Express)

JembranaExpress.Com - Pagi belum sepenuhnya terang ketika aktivitas di Sentra Pemindangan Ikan Desa Kusamba mulai hidup. Asap tipis mengepul dari tungku-tungku besar, berpadu dengan aroma khas ikan pindang yang sudah begitu akrab bagi masyarakat pesisir.

 

Di sela kesibukan para pekerja yang mengangkat keranjang ikan dan menyiapkan garam, seorang perempuan tampak sigap mengawasi proses pemindangan. Tangannya cekatan, sesekali membantu menyusun ikan tongkol ke dalam wadah rebusan.

Baca Juga: 13 Calon Jemaah Haji Nonprosedural Dicegah di Bandara Ngurah Rai, Diduga Gunakan Jalur Malaysia

Perempuan itu adalah Ni Wayan Suitari, salah satu perajin pindang yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari aktivitas pemindangan ikan di Kusamba.

 

Bagi Suitari, aroma pindang bukan sekadar bau dapur produksi. Aroma itu adalah bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil.

 

“Saya mengenal aktivitas pemindangan ini sejak kecil, saya sudah mulai meburuh membuat pindang sejak kelas 3 SD,” tuturnya sambil tersenyum mengingat masa lalu.

 

Kala itu, kehidupan di pesisir Kusamba tak pernah jauh dari laut dan ikan. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Suitari kecil justru membantu menurunkan ikan dari kapal nelayan di sekitar pelabuhan. Dari sanalah ia mengenal kerasnya kehidupan sekaligus belajar tentang ketekunan.

 

Ia bahkan memutuskan tidak melanjutkan pendidikan setelah SMP dan memilih fokus bekerja membantu keluarga di sentra pemindangan.

Baca Juga: Klungkung Lirik Kerajinan Serat Alam, Pandan dan Enceng Gondok Bakal Dipadukan dengan Endek

Tahun demi tahun berlalu. Setelah menikah dan memiliki anak, sekitar 22 tahun lalu Suitari mulai memberanikan diri membuka usaha sendiri. Awalnya bukan hal mudah. Ia memulai dari berdagang kecil-kecilan, menjual ikan, keranjang, hingga garam untuk kebutuhan pemindangan.

 

Modal usaha pun diperoleh dari pinjaman bank. Dengan modal itu, ia perlahan membangun dapur pemindangan sederhana dan mulai memproduksi pindang sendiri.

 

“Dulu saya mulai sedikit-sedikit. Yang penting jalan dulu,” kenangnya.

Baca Juga: MKM Sanur Pos Resmi Dibuka, Hadirkan Layanan Lengkap Motor Honda Lebih Dekat ke Warga

Kepercayaan pasar perlahan datang. Hasil pindangnya mulai dikenal dan dipasarkan ke berbagai pasar tradisional di Bali, termasuk Pasar Badung. Kini, ikan pindang produksinya juga dipasok ke sejumlah catering dan rumah makan di Denpasar hingga Badung.

 

Setiap hari, sekitar 400 kilogram ikan tongkol segar diolah di tempat usahanya. Dari jumlah itu, ia mampu menghasilkan sekitar 350 keranjang pindang yang kemudian didistribusikan ke pelanggan.

 

Aktivitas produksi dimulai sejak pagi. Bersama dua orang pekerja, Suitari mengolah ikan hingga menjelang siang. Prosesnya terlihat sederhana, namun membutuhkan ketelitian dan tenaga besar.

Baca Juga: Polsek Selemadeg Intensif Patroli Malam, Antisipasi Balap Liar dan Kejahatan Jalanan

Bagi masyarakat Kusamba, usaha pemindangan bukan sekadar pekerjaan rumah tangga biasa. Tradisi ini telah menjadi denyut ekonomi warga pesisir selama puluhan tahun.

 

Namun di balik geliat usaha tersebut, ada tantangan yang terus dihadapi. Salah satunya soal garam, bahan utama dalam proses pemindangan.

 

Setiap hari Suitari membutuhkan sekitar 75 kilogram garam. Ia sebenarnya ingin menggunakan garam lokal Kusamba yang terkenal kualitasnya. Namun harga yang cukup tinggi membuatnya harus memilih garam dari Bima sebagai alternatif.

Baca Juga: Polsek Selemadeg Intensif Patroli Malam, Antisipasi Balap Liar dan Kejahatan Jalanan

“Kalau garam Bima harganya lebih murah dan pasokan lancar,” ujarnya.

 

Meski demikian, ia berharap usaha pemindangan di Kusamba tetap bertahan di tengah perubahan zaman dan persaingan pasar yang semakin ketat.

 

Bagi Suitari, mempertahankan usaha ini bukan hanya soal mencari nafkah. Lebih dari itu, ia ingin menjaga tradisi pesisir yang telah diwariskan turun-temurun.

 

Di tengah kepulan asap tungku dan aroma ikan rebus yang memenuhi udara Kusamba, perempuan itu terus bekerja dalam diam. Dari tangan-tangan seperti miliknya, tradisi pindang Bali tetap hidup dan menghidupi banyak keluarga hingga hari ini.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#pindang khas kusamba #ni wayan suitari #pindang #tradisi pindang bali #klungkung