Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Di Balik Foto Prewedding Masyarakat Bali, Antara Kenangan Cinta, Gengsi Sosial, dan Menjaga Kesakralan Pawiwahan

I Putu Mardika • Minggu, 21 Juni 2026 | 16:06 WIB
Sosiolog IAHN Mpu Kuturan Komang Agus Darmayoga Kantina, M.Sosio. (ist)
Sosiolog IAHN Mpu Kuturan Komang Agus Darmayoga Kantina, M.Sosio. (ist)

JembranaExpress.Com - Di sebuah persawahan yang menguning, sepasang calon pengantin mengenakan busana adat Bali. Di tangan mereka tergenggam bunga, sementara kamera mengabadikan senyum dan tatapan penuh harap menuju hari pernikahan.

 

Pemandangan seperti ini kini menjadi hal yang lumrah di Bali. Hampir setiap pasangan yang akan melangsungkan pawiwahan memilih mengabadikan momen cinta mereka melalui foto prewedding.

Baca Juga: Ngeri! Dua Pengunjung Terpental dari Jet Coaster di Pasar Rakyat Pergung Jembrana, Tiga Orang Terluka

Bagi sebagian orang, foto-foto itu adalah kenangan yang akan dikenang seumur hidup. Namun di balik gambar yang tampak romantis dan indah, tersimpan kisah tentang perubahan sosial masyarakat Bali yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.

 

Dosen Sosiologi IAHN Mpu Kuturan Singaraja, Komang Agus Darmayoga Kantina, melihat fenomena prewedding sebagai cerminan transformasi budaya di era modern dan digital.

 

“Perkawinan dalam tradisi Bali pada dasarnya merupakan ritual sakral yang memiliki fungsi religius dan sosial. Namun dalam perkembangannya, ritual ini juga menjadi ruang representasi identitas, status sosial, dan citra diri. Foto prewedding kemudian hadir sebagai simbol baru yang dianggap mampu memperkuat representasi tersebut,” ujarnya.

 

Menurut Darmayoga, generasi muda Bali saat ini tidak hanya ingin menikah secara sah menurut agama dan adat, tetapi juga ingin menampilkan momen itu secara menarik dan estetik.

 

Media sosial ikut memainkan peran besar dalam perubahan tersebut. Foto-foto pernikahan yang romantis, megah, dan artistik yang beredar di Instagram, Facebook, maupun TikTok perlahan membentuk standar baru mengenai bagaimana sebuah pernikahan ideal seharusnya ditampilkan.

Baca Juga: Baleganjur Remaja Duta Jembrana Memukau PKB 2026, Angkat Makna Mendalam Tradisi Ngajum Sekah

Akibatnya, foto prewedding yang dahulu merupakan pilihan kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang nyaris dianggap sebagai kebutuhan sosial.

 

“Ketika mayoritas pasangan melakukannya, mereka yang tidak melakukan foto prewedding sering kali merasa berbeda atau dianggap kurang mengikuti perkembangan zaman,” katanya.

 

Di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan industri kreatif yang berkembang pesat. Jasa fotografi, tata rias, dekorasi, video sinematik hingga wedding organizer tumbuh menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari penyelenggaraan perkawinan modern di Bali.

 

Perputaran ekonomi yang tercipta membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Namun, ada pula sisi lain yang perlu mendapat perhatian.

 

Tidak sedikit pasangan yang rela mengeluarkan biaya besar, bahkan berutang, demi menghadirkan pesta pernikahan dan sesi prewedding yang dianggap layak secara sosial.

 

“Ketika simbol dan citra menjadi lebih penting daripada substansi, masyarakat bisa terjebak dalam perilaku konsumtif. Padahal esensi perkawinan dalam ajaran Hindu dan tradisi Bali bukan terletak pada kemewahan visual, melainkan pada penyatuan dua individu dan dua keluarga dalam ikatan sakral,” tegas Darmayoga.

Baca Juga: Jembrana Raih WTP 12 Kali Berturut-turut, Bupati Kembang: Ini Kewajiban, Bukan Piala Prestasi

Meski demikian, ia menegaskan bahwa foto prewedding pada dasarnya tidak bertentangan dengan ajaran Hindu maupun adat Bali selama tetap memperhatikan etika, kesopanan, dan tidak menggeser makna utama dari pawiwahan.

 

Bahkan, foto prewedding dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya Bali kepada masyarakat luas. Banyak pasangan memilih mengenakan payas agung, mengambil latar persawahan, pura, atau arsitektur tradisional Bali sebagai tema utama pemotretan mereka.

 

“Ketika pasangan mengenakan busana adat dan menampilkan simbol-simbol budaya Bali dalam foto prewedding, secara tidak langsung mereka sedang memperkenalkan identitas budaya Hindu Bali kepada masyarakat luas,” katanya.

 

Bagi Darmayoga, tantangan terbesar saat ini bukanlah keberadaan foto prewedding, melainkan bagaimana masyarakat tetap menempatkan pawiwahan sebagai ritual suci yang berlandaskan nilai agama dan kekeluargaan.

 

“Esensi pawiwahan tetaplah penyatuan dua insan dan dua keluarga dalam ikatan suci yang disaksikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Foto prewedding hanyalah pelengkap yang dapat memperindah kenangan, bukan tujuan utama dari perkawinan itu sendiri,” pungkasnya.

Baca Juga: Bupati Kembang Buka Turnamen Futsal KEJORA V, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Muda Jembrana

Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Bali kembali diingatkan bahwa tradisi memiliki kekuatan untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Foto prewedding boleh menjadi bagian dari ekspresi zaman, tetapi kesakralan pawiwahan tetaplah menjadi ruh yang tak tergantikan.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#foto preweding bali #dokumentasi menjelang pernikahan #pawiwahan bali #cerita identitas #tekanan sosial