JEMBRANAEXPRESS.COM - Kasus perkelahian berdarah yang menewaskan dua kakak beradik di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, kini mulai terungkap.
Kedua korban, I Ketut Kartawa (50) dan Jero Sumadi (47), telah menjalani autopsi di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.
Manager Hukum dan Humas RSUP Prof. Ngoerah, Dewa Ketut Kresna, membenarkan kedua jenazah tiba di Instalasi Forensik pada Minggu, 12 Oktober 2025 sekitar pukul 19.30 WITA.
“Untuk hasil autopsi masih dalam analisa dan juga masih dikoordinasikan dengan penyidik,” ujar Dewa Kresna, Selasa (14/10).
Dari pemeriksaan luar, tim forensik menemukan luka di bagian kepala pada jenazah I Ketut Kartawa, sedangkan Jero Sumadi mengalami luka di perut dan paha, yang seluruhnya disebabkan oleh senjata tajam.
“Autopsi sudah selesai dan jenazah sudah dikembalikan ke pihak keluarga di Bangli pada Senin (13/10) sekitar pukul 19.00 WITA. Autopsi dilakukan atas permintaan kepolisian,” jelasnya.
Perkelahian maut tersebut bermula dari pertikaian dua kelompok keluarga di Desa Songan.
Berdasarkan keterangan kepolisian, bentrokan itu melibatkan pihak dengan rentang usia cukup jauh.
Kelompok pertama terdiri atas Jero Sumadi dan dua saudaranya yang berusia sekitar 50 tahun. Mereka terlibat adu fisik dengan Mangku Arta (29) serta saudaranya yang berusia 30-an tahun.
Baca Juga: Bupati Karangasem Sidak Dua Puskesmas, Tegaskan Disiplin dan Profesionalisme Tenaga Kesehatan
Pertikaian itu berakhir tragis — dua kakak beradik, Jero Sumadi dan I Ketut Kartawa, meninggal dunia, sementara satu saudara lainnya masih dirawat dalam kondisi kritis di rumah sakit.
PS Kasi Humas Polres Bangli, Iptu I Ketut Gede Ratwijaya, seizin Kapolres Bangli, membenarkan bahwa Satreskrim Polres Bangli telah menggelar autopsi terhadap dua korban di RSUP Prof. Ngoerah.
“Korban Jero Sumadi meninggal akibat luka terbuka di perut dengan usus terurai, sedangkan Kartawa meninggal karena luka terbuka di kepala bagian depan dan lengan bawah kanan,” ujarnya.
Saat ini, polisi masih mendalami keterlibatan tiga terduga pelaku, yakni I Ketut Arta alias Mangku Arta (29), Jero Wage (40), dan Mangku Bersi (33).
Baca Juga: WNA Perancis Tewas Terseret Arus di Pantai Kelingking, Nusa Penida
Ketiganya berasal dari Banjar Tabu, lokasi yang sama dengan para korban. Rumah mereka pun berjarak cukup berdekatan, sehingga diduga kuat konflik ini dipicu oleh masalah internal keluarga yang berujung fatal.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa