Film klasik garapan Putu Kusuma Wijaya dan Putu Satria Kusuma ini lebih banyak memunculkan simbol atau semiotika dalam film. Adegan yang dibuat dapat dimengerti dengan mudah tanpa harus dijelaskan dengan kata-kata.
Setelah bertengger selama 14 hari di bioskop, film Jayaprana Layonsari resmi turun layar. Penayangan di layar lebar pada Rabu (10/4) menjadi penayangan terakhir. Kamis (11/4) film Jayaprana Layonsari resmi turun layar.
Namun, dalam film ini, tanpa disadari ada budaya patriarki yang melekat.
Budaya patriarki sendiri merupakan sistem sosial dengan laki-laki menduduki posisi utama dalam hal kekuasaan, dominasi dalam berbagai aspek seperti kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, dan kepemilikan properti.
Dalam film Jayaprana Layonsari ini, budaya patriarki diwakili oleh norma-norma yang memberikan kekuasaan dan kendali kepada laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hubungan pernikahan dan keluarga.
Budaya patriarki tercermin dalam pernikahan yang diatur secara paksa antara peran Ni Luh Metri dengan Raja Kalianget.
Begitu besar kekuasaan raja sehingga tidak dapat ditolak. Pun demikian, tokoh Metri dalam film tersebut digambarkan sebagai sosok gadis yang tidak dapat berbuat banyak, selain menurut untuk dijadikan selir dan pemuas nafsu sang penguasa.
Akan tetapi, tokoh Layonsari sebagai tokoh perempuan, dihadapkan pada tekanan dan keterbatasan yang ditetapkan oleh norma-norma patriarki.
Dia dianggap sebagai objek yang harus patuh terhadap keinginan dan keputusan laki-laki, tanpa memiliki otoritas atau kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri.
“Saya sependapat. Setelah menonton film ini saya berpikir, jaman dulu perempuan diharuskan mematuhi laki-laki dan tidak boleh melawan, karena ketidakberdayaan penguasa,” ujar Putu Karta, salah satu penonton film Jayaprana Layonsari di Level XXI, Denpasar.
Meskipun demikian, Layonsari digambarkan sebagai tokoh yang tidak pasif dalam menghadapi budaya patriarki tersebut.
Melalui gerakan feminisme yang masih bersifat tradisional, Layonsari menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan.
Ia mencoba untuk melawan keterbatasan yang diberlakukan oleh budaya patriarki melalui cara-cara yang tersedia baginya, meskipun terbatas oleh konteks budaya dan sosialnya.
Duet sutradara Buleleng, Putu Kusuma Wijaya dan Putu Satria Kusuma berhasil menampilkan gerakan feminisme itu lewat gerak tubuh, pandangan mata tokoh serta mimik wajah, tanpa harus mengucapkan banyak dialog.
Simbol-simbol itu sangat sederhana tetapi cukup kuat untuk menggambarkan perlawanan pada jaman itu.
Layonsari mungkin tidak melawan budaya patriarki secara langsung seperti yang mungkin diharapkan dalam gerakan feminisme modern, tetapi dalam film tersebut tokoh itu menggunakan kekuatannya dalam lingkup yang diperbolehkan oleh masyarakatnya.
Misalnya, ia menunjukkan kecerdasan, kesetiaan dan kebijaksanaan dalam memanipulasi situasi untuk melindungi dirinya sendiri dan membela nilai-nilai yang dianggapnya benar.
Layonsari dapat dilihat sebagai simbol perlawanan terhadap budaya patriarki dalam konteks budaya dan waktu yang spesifik.
Meskipun gerakannya mungkin tidak sekuat gerakan feminisme modern, kontribusinya tetap penting dalam membangkitkan kesadaran akan hak-hak perempuan dan mempertanyakan struktur kekuasaan yang tidak adil dalam masyarakatnya. (dhi)
Editor : I Putu Mardika