JEMBRANAEXPRESS.COM-Kepergian mantan Rektor Unud Prof. Dr. Ir. I Nyoman Gde Antara, M.Eng,IPU menyisakan duka mendalam bagi sang istri Dayu Bulan Antara.
Dayu Bulan Antara mengungkapkan bahwa suaminya tidak menunjukkan tanda-tanda sakit serius sebelum meninggal pada Kamis (8/8/2024).
“Memang tidak ada gejala sakit apapun. Cuma empat hari sebelum meninggal, kerongkongannya terasa sakit, kemudian mengalami diare. Namun, saat tiba di rumah sakit, dia mengalami berak darah berwarna hitam. Kondisinya semakin menurun, dan sehari setelah ulang tahunnya, kondisinya semakin drop,” ujar Dayu Bulan Antara pada Jumat (9/8/2024).
Prof. Antara, yang menjabat sebagai Rektor Unud pada periode 2021-2023, sempat menghadapi proses hukum yang berat terkait dugaan korupsi dalam kasus Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) Unud.
Meskipun akhirnya dibebaskan dan dinyatakan tidak bersalah, proses hukum tersebut meninggalkan trauma dan tekanan yang mendalam bagi dirinya dan keluarganya.
“Usaha para pengacara, pimpinan, dekan, dan staf sudah sangat keras dalam membela dan menjadi saksi meringankan di persidangan,” kenang Dayu Bulan Antara.
Meskipun Prof. Antara dinyatakan bebas, perjuangannya belum usai. Hingga hari kematiannya, hasil kasasi yang diajukan oleh jaksa belum juga keluar.
"Itu yang sangat saya sesalkan, saya sedih sekali. Kenapa seorang rektor dari Unud mendapat perlakuan sedemikian sadis," ujar Dayu Bulan Antara dengan penuh kesedihan.
Lebih lanjut, Dayu Bulan Antara mengungkapkan bahwa suaminya sempat merencanakan pensiun dini dan menetap di luar negeri setelah menyelesaikan kasus tersebut.
Namun, rencana itu terhenti dengan kepergiannya yang tiba-tiba. "Dia tidak haus jabatan, tidak menginginkan jabatan. Dia sempat mengatakan, 'saya tidak menanti hasil kasasi, saya ingin pensiun muda, saya ingin keluar negeri dan hidup di sana.' Tapi saya tidak diizinkan," tuturnya.
Sebagai penutup, Dayu Bulan Antara menyampaikan pesan terakhir untuk seluruh pimpinan dan civitas akademika Unud.
Ia meminta doa agar suaminya pergi dengan tenang dan memohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah dilakukan.
"Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada pimpinan Unud bila ada kesalahan, mohon dimaafkan dan mohon doanya agar pergi dengan tenang," tutupnya. (*)
Editor : Suharnanto Jembrana Express