JEMBRANAEXPRESS.COM– Dua orang calon tenaga kerja (Naker) asal Buleleng Bali yang mengaku di sekap di perbatasan Myanmar mengalami berbagai tindak kekerasan.
Peristiwa penyekapan disertai tindak kekerasan itu dialami Kadek Agus Ariawan alias Agus Moncot dari Kelurahan Liligundi dan Nengah Sunaria dari Desa Jinengdalem Buleleng yang dijanjikan pekerjaan di Thailand.
Kasus ini terungkap atas laporan kakak kandung korban Agus Moncot, Ketut Alit Suryawan, ke Polres Buleleng pada Selasa (3/9/2024).
Sementara kakak kandung Nengah Sunaria, Gede Sepiadi, melaporkannya ke Balai Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Denpasar pada 28 Agustus 2024.
Disebutkan, korban berangkat ke Thailand setelah mendapatkan informasi manis dari tetangganya Komang B alias Katak, yang diketahui berasal dari desa yang sama.
Katak menjanjikan visa liburan selama satu bulan yang kemudian akan diubah menjadi visa kerja dengan gaji sebesar 800 dolar per bulan.
Biaya keberangkatan yang ditawarkan juga murah, hanya Rp7,5 juta yang membuat keduanya tertarik dan segera mengurus paspor pada Juli 2024.
Baca Juga: Miris Banget! Bocah 14 Tahun di Buleleng Jadi Korban Pencabulan: Pelakunya Teman Ayah Korban
Pada akhir Juli 2024, Katak sempat pulang ke Buleleng dan bertemu dengan Agus Moncot yang semakin meyakinkan dirinya untuk berangkat bekerja.
Menjelang keberangkatan, Katak meminta uang sebesar Rp5 juta yang disebutkan sebagai uang saku, namun ternyata digunakan sebagai uang jaminan.
Pada 5 Agustus 2024, Agus Moncot dan Nengah Sunaria berangkat dari Bandara Ngurah Rai menuju Jakarta, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur, Malaysia dabn tiba di Thailand pada 7 Agustus 2024.
Kabar terakhir yang diterima Alit Suryawan, Agus Moncot sedang menjalani pelatihan selama satu bulan di Thailand dan tidak diizinkan memegang ponsel karena disita pihak perusahaan.
Namun, Alit mengaku tidak mendapat jawaban yang jelas dari Katak mengenai lokasi kerja dan kondisi adiknya.
Sementara itu, Gede Sepiadi kehilangan kontak dengan Nengah Sunaria sejak 7 Agustus 2024. Pada 20 Agustus 2024, ia menerima kabar dari sepupunya bahwa Sunaria dalam kondisi tidak baik, mengalami kekerasan, dan tidak digaji.
Pada 25 Agustus 2024, Alit Suryawan menerima video dari Agus Moncot yang menunjukkan bahwa mereka disekap di sebuah ruangan di perbatasan Myanmar dengan Thailand bersama 32 pekerja migran lainnya.
Dalam video tersebut, Agus Moncot dan Nengah Sunaria mengaku diperlakukan dengan kejam, termasuk dipukul, disiksa, dan disetrum jika tidak mencapai target kerja, serta bekerja tanpa gaji dan tanpa makan yang layak.(*)
Editor : Suharnanto Jembrana Express