JEMBRANAEXPRESS.COM– Sebuah video berdurasi 34 detik yang menampilkan seorang guru tampar murid di Lamongan, Jawa Timur (Jatim) viral di media sosial.
Video guru tampar murid tersebut terjadi di SMP Negeri 1 Kembangbahu, Lamongan, pada Selasa (24/9/2024).
Video yang diunggah oleh akun Instagram @lamongan.update tersebut telah menarik perhatian publik, dengan 6.877 suka, 1.696 komentar, dan dibagikan 1.011 kali.
Dalam video tersebut, terlihat sang guru memarahi seorang siswa laki-laki berseragam SMP, sebelum menamparnya berkali-kali di depan kelas.
Siswa yang terkena tamparan mundur ke kursinya, namun guru tersebut terus melayangkan tamparan.
Peristiwa ini diduga direkam oleh salah satu siswa di dalam kelas menggunakan ponsel.
Reaksi warganet pun beragam, ada yang mendukung tindakan guru tersebut, namun banyak juga yang mengkritik penggunaan kekerasan.
Beberapa komentar menyatakan bahwa guru mungkin menampar karena siswa tidak sopan, sementara yang lain mengecam tindakan tersebut.
"Kalau murid nggak keterlaluan, nggak mungkin dihukum oleh guru," tulis salah satu akun. Namun ada juga yang menentang kekerasan, "Saya juga guru, semarah-marahnya saya nggak sampai pakai kekerasan," ujar pengguna lainnya.
Menurut informasi yang beredar, insiden ini terjadi ketika siswa menyerahkan lembar jawaban ulangan, namun memanggil nama gurunya tanpa kata "bu" di depan.
Hal ini diduga memicu kemarahan sang guru, yang kemudian menampar siswa tersebut.
Namun, seorang teman siswa dalam kolom komentar menyebut bahwa siswa tersebut sebenarnya sudah memanggil dengan sopan, tetapi tidak terdengar oleh sang guru, sehingga terjadi kesalahpahaman.
Kepala Dinas Pendidikan Lamongan, A. Munif Syarif, mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut benar terjadi di SMP Negeri 1 Kembangbahu saat ulangan mata pelajaran Bahasa Inggris.
Guru perempuan yang terlibat dalam insiden tersebut berinisial E.
"Sementara ini, kami menarik oknum guru tersebut ke Dinas Pendidikan untuk dimintai keterangan lebih lanjut," ujar Munif.
Ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap siswa tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apapun.
Munif berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak dan tidak terulang di masa mendatang.
"Saya sering menekankan dalam setiap pertemuan, kekerasan bukan solusi. Kejadian ini harus menjadi pembelajaran," tutupnya.(*)
Editor : Suharnanto Jembrana Express