JEMBRANAEXPRESS.COM - Di tengah kemeriahan suara penggorengan dan denting piring saji, Lomba Masak Sehat yang diadakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Buleleng pada Jumat (6/12), menghadirkan visi besar untuk melestarikan kekayaan kuliner Buleleng dan menciptakan standar baru dalam memasak sehat.
Namun, di tengah kebiasaan masyarakat yang sering tergoda oleh makanan cepat saji, apakah inisiatif ini cukup efektif?
Baca Juga: Undiksha Mantapkan Langkah Menuju PTN BH dan Visi Global 2026, Optimis Raih Reputasi Internasional
Bertempat di Gedung Wanita Laksmi Graha, acara ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, melainkan juga arena perjuangan untuk memperkenalkan wajah baru kuliner lokal melalui bahan-bahan seperti ayam, ikan segar, sorgum, dan jagung.
Peserta, yang terdiri dari ketua unsur DWP dan organisasi wanita se-Kabupaten Buleleng, tampil dengan kreativitas terbaik mereka.
Masakan yang disajikan merupakan manifestasi kuliner sehat bebas MSG dan pemanis buatan—a small yet meaningful step for public health.
Ny. Dewi Suyasa, Ketua DWP Kabupaten Buleleng, menekankan pentingnya penggunaan bahan lokal secara kreatif untuk mendukung gaya hidup sehat.
"Lomba ini bukan hanya soal masakan, tapi tentang bagaimana ibu-ibu berperan penting dalam menciptakan keluarga sehat melalui dapur mereka," ujarnya.
Made Setiawan, Ketua Indonesian Chef Association (ICA) Buleleng, mengakui besarnya potensi bahan pangan lokal seperti sorgum dan jagung untuk menjadi ikon kuliner sehat.
"Ini lebih dari sekadar mengenalkan makanan sehat, ini melawan dominasi bahan impor dengan kekayaan lokal kita sendiri," katanya.
Namun, ia juga mengingatkan akan tantangan besar yang dihadapi, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya bahan lokal dan pola makan sehat.
"Diperlukan edukasi dan program berkelanjutan untuk mengubah pola pikir masyarakat," tambahnya.
Selain lomba, DWP Buleleng berkomitmen untuk mempromosikan kuliner lokal melalui berbagai program. Namun, mereka sadar bahwa tanggung jawab ini perlu dibagi.
Kolaborasi dengan komunitas, sektor swasta, dan pemerintah menjadi kunci untuk membawa misi ini ke tingkat lebih luas.
"Ini adalah langkah awal dari perjalanan panjang untuk merevolusi kebiasaan kuliner masyarakat," kata Dewi Suyasa.
Keberhasilan program ini lanjutnya seperti cita rasa masakan, membutuhkan sinergi kuat.
"Tanpa dukungan dari berbagai pihak, tujuan mulia ini bisa berakhir seperti masakan tanpa bumbu, indah di awal, hambar di akhirnya," pungkasnya.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa