JEMBRANAEXPRESS.COM - Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Kabupaten Buleleng meluncurkan inovasi terbarunya, Sinergitas Revitalisasi Inovatif Kekayaan Arsip dan Nilai Daerah Integratif (SRIKANDI).
Bersamaan dengan itu, mereka juga memperkenalkan Diorama Virtual Soenda Ketjil, sebuah program edukasi sejarah lokal dalam format digital.
Acara sosialisasi berlangsung di Ruang Rapat DAPD Buleleng dan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pengelola perpustakaan sekolah, dan tim DAPD.
Kepala DAPD Buleleng, Made Era Oktarini, menyatakan bahwa program baru ini bertujuan menjembatani pengelolaan arsip konvensional dan digital, sehingga memudahkan akses masyarakat terhadap nilai sejarah lokal.
“Kami ingin menjembatani pengelolaan arsip konvensional dan digital agar nilai sejarah lokal semakin mudah diakses dan dipahami,” ujar Made Era Oktarini dalam acara yang berlangsung Selasa (17/12/2024).
Dalam pelaksanaannya, program SRIKANDI Buleleng dirancang dengan mengintegrasikan pengelolaan arsip lintas instansi menggunakan pendekatan teknologi.
DAPD menggandeng berbagai dinas terkait, seperti Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Kominfosanti, untuk memaksimalkan program ini.
Arsip tidak hanya berfungsi sebagai dokumen sejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi interaktif.
“Inovasi utama adalah Diorama Virtual Soenda Ketjil, yang menghadirkan arsip sejarah lokal dalam format digital,” jelas Made Era Oktarini.
Diorama ini, yang menyoroti tokoh-tokoh penting seperti I Gusti Ketut Pudja, dirancang untuk menjadi pusat edukasi sejarah dan diharapkan menarik wisatawan ke Museum Jagaraga dan Museum Buleleng.
Dengan demikian, diorama ini juga dapat berkontribusi pada pendapatan daerah melalui retribusi wisata.
DAPD Buleleng juga berkomitmen meningkatkan akreditasi perpustakaan desa dan sekolah, dengan 23 perpustakaan telah terakreditasi berkat dukungan dari DAPD.
Respon positif dari masyarakat mencerminkan dukungan terhadap pelestarian sejarah lokal melalui teknologi.
Made Era Oktarini menutup dengan optimisme bahwa SRIKANDI Buleleng akan menjadi model pengelolaan arsip berbasis integratif yang dapat mendekatkan generasi muda pada sejarah lokal.
“Diorama-diorama ini bukan hanya sarana edukasi, tetapi juga upaya menghubungkan masa lalu dengan kebutuhan masa kini,” pungkasnya. ***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa