JEMBRANAEXPRESS.COM – Sepanjang tahun ini, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kabupaten Tabanan mencatat peningkatan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) yang signifikan.
Tidak hanya orang dewasa, penyakit ini juga banyak menyerang anak-anak dan dapat mengakibatkan kematian di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia.
Untuk mencegah dampak fatal tersebut, selain upaya pemberantasan sarang nyamuk dan fogging berkala, pencegahan dini menjadi langkah esensial.
Menurut dr. Kartika Tejawati, dokter spesialis Penyakit Dalam dari RS Prof. Ngoerah Denpasar, penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, terutama di musim hujan.
“Nyamuk sebagai pembawa virus ini menggigit manusia, dan mereka dengan sistem imun lemah rentan terjangkit demam berdarah,” ungkap dr. Teja.
Baca Juga: GWK Bali Countdown 2025: Pesta Kembang Api Spektakuler dan Hiburan Khusus Tahun Baru
Untuk pencegahan yang efektif, dr. Teja menekankan pentingnya memperkuat sistem imun.
Sistem imun yang kuat dapat mengurangi risiko penyakit menjadi lebih parah.
Ia menyarankan agar masyarakat melakukan perubahan kecil dalam gaya hidup sehari-hari demi kesehatan yang lebih baik.
Penerapan 3M Plus (Menutup, Menguras, dan Mendaur ulang) secara konsisten merupakan salah satu cara pencegahan penularan DBD.
Selain itu, vaksinasi DBD yang tersedia dan direkomendasikan bagi usia 6-45 tahun juga bisa menjadi perlindungan tambahan.
Namun, konsultasi dengan dokter sebelum vaksinasi tetap dianjurkan.
Dalam kasus serangan demam berdarah, dr. Teja memberikan tips perawatan awal di rumah sebelum mendapatkan bantuan medis lebih lanjut.
Pasien dianjurkan beristirahat cukup untuk memulihkan tubuh, memperbanyak konsumsi cairan, dan mengasup makanan bernutrisi.
Jika demam tidak mereda, sebaiknya pasien segera memeriksakan diri ke dokter. Umumnya, dokter mungkin akan memberikan paracetamol untuk menurunkan demam dan mengatasi nyeri.
Namun, penting diingat, obat seperti ibuprofen atau aspirin tidak disarankan untuk anak-anak karena dapat mempengaruhi jumlah trombosit darah.
"Apabila dalam 24 jam anak mengalami muntah dan kondisi kesehatannya menurun, segeralah bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang tepat," tutup dr. Teja.
Dengan kesadaran dan langkah pencegahan yang tepat, diharapkan dapat menekan peningkatan kasus demam berdarah dan melindungi kesehatan warga Tabanan secara lebih efektif.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa