JEMBRANAEXPRESS.COM - Di tengah derasnya arus modernisasi, kelompok penyuluh bahasa Bali di Kabupaten Buleleng berkomitmen untuk mengambil langkah berbeda dalam upaya melestarikan budaya dan lingkungan.
Mereka tidak hanya membahas pelestarian, tetapi juga mewujudkannya melalui aksi kreatif yang menarik.
Baca Juga: Kecelakaan Tragis di Mojokerto: Korban Meninggal Dunia Dihajar Motor Sport Saat Menyeberang
Ketua Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng, Putu Pertamayasa, menyatakan bahwa proses belajar tidak harus terbatas pada buku atau kelas formal.
“Ada banyak cara untuk belajar, dan cara yang unik seringkali lebih efektif,” ujarnya pada Kamis (16/1).
Pernyataan tersebut kini dibuktikan melalui metode pembelajaran bahasa Bali yang inovatif. Dalam usaha untuk memperkenalkan aksara Bali, para penyuluh di Buleleng memanfaatkan limbah sampah plastik sebagai bahan utama.
Plastik, yang biasanya dianggap sebagai musuh lingkungan, diubah menjadi alat edukasi yang penuh warna dan daya tarik.
Baca Juga: Kecelakaan di Kediri: Truk Seruduk Teras Rumah, Pengendara Motor Tewas di Tempat
Setiap huruf aksara Bali dibentuk dari plastik bekas dengan warna-warna cerah, menciptakan media pembelajaran yang menarik perhatian tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
“Kami ingin menunjukkan bahwa belajar bahasa Bali itu tidak membosankan. Dengan warna-warna ini, anak-anak yang biasanya lebih sibuk dengan media sosial bisa tertarik untuk belajar sesuatu yang berharga,” jelasnya.
Inisiatif menarik ini tidak hanya memperkenalkan bahasa dan budaya Bali, tetapi juga mengedepankan pesan penting tentang pelestarian lingkungan.
Baca Juga: Viral, Siswa SMKN I Abang Karangasem Terlibat Perkelahian, Seorang Korban Dievakuasi ke Rumah Sakit
Proses pembuatan aksara Bali dari limbah plastik ini melibatkan beberapa tahap kreatif. Sampah plastik yang terpungut dibersihkan, dipotong, dan dibentuk menjadi huruf-huruf aksara Bali.
Cat ramah lingkungan digunakan untuk menambah warna yang cerah, menghasilkan karya yang tidak hanya edukatif tetapi juga estetik.
Keterlibatan anak-anak dan warga dalam proses ini menambah kegembiraan tersendiri saat mereka melihat hasil akhir yang menakjubkan.
“Metode ini menjadi sebuah panggilan bagi masyarakat modern yang sering mengabaikan nilai-nilai tradisional,” sebutnya.
Ia menambahkan, di era di mana anak-anak lebih akrab dengan emoji daripada aksara Bali, langkah ini menjadi pengingat pentingnya melestarikan budaya.
Pendekatan yang inovatif ini juga menunjukkan optimisme bahwa kreativitas dapat menjembatani kesenjangan antara tradisi dan modernitas.
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye peduli lingkungan. Dengan memanfaatkan sampah plastik yang dulunya hanya dianggap polutan, para penyuluh berhasil mengubahnya menjadi media pembelajaran yang bermanfaat.
Inisiatif ini tidak hanya melestarikan budaya Bali tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sekitar.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa