JEMBRANAEXPRESS.COM - Sebanyak 22 ekor penyu hijau yang diduga hasil penyelundupan kini dirawat di kolam rehabilitasi milik Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI) di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.
Kolam tersebut terletak di tengah laut dan cukup jauh dari pemukiman manusia.
Penyu-penyu ini dirawat secara intensif oleh dokter hewan Farida Ulya Nugrahatin beserta tim dari JSI.
Dokter Farida menjelaskan bahwa semua penyu yang dibawa ke pusat rehabilitasi mengalami luka tusuk pada flipper depan bagian kiri dan kanan.
Luka tersebut diakibatkan oleh pemburu yang melukai penyu agar tidak berontak saat ditangkap.
“Para pemburu biasanya melumpuhkan penyu dengan cara menusuk flipper depan di kiri dan kanan, sehingga ada bekas tusukan. Luka-luka ini sudah kami obati,” ujar dokter Farida saat ditemui di kolam rehabilitasi, Sabtu (25/1/2025).
Selain mengalami luka tusuk, ada seekor penyu yang mengalami luka robek pada flippernya.
Farida bersama tim JSI telah menjahit luka robek tersebut sebagai bagian dari upaya pertolongan.
“Kemungkinan penyu ini berontak sehingga flippernya terikat dan robek. Kami sudah menjahit lukanya. Sebelumnya, ada penyu yang terlihat lemas, tapi setelah diinfus, sekarang sudah berenang dengan baik dan nafsu makannya pun normal,” ungkap Farida.
Meski sedang dalam perawatan, dokter Farida menyarankan agar penyu-penyu tersebut segera dilepasliarkan.
Menurutnya, penyu-penyu ini akan berkembang lebih baik di laut bebas dibandingkan di penangkaran, terlebih kondisi mereka sudah sehat.
“Sebenarnya mereka adalah hewan liar. Kolam ini hanya semi habituasi, bukan habitat asli mereka meskipun menggunakan air laut. Mereka seharusnya berada di laut bebas. Sekarang mereka sudah sehat, aktif, jadi harus segera dilepas,” katanya.
Semua penyu yang dirawat adalah betina. Jika tidak segera dilepasliarkan, hal ini dapat menghambat proses perkembangbiakan mereka.
“Semua penyu ini adalah betina. Kami khawatir jika mereka ingin bertelur. Mereka butuh pasir dan daratan untuk bertelur,” ujarnya.
Namun, tim medis JSI belum dapat memastikan keinginan bertelur penyu-penyu ini karena belum melakukan cek USG, yang memerlukan alat khusus.
Saat ini, mereka hanya melakukan pengawasan melalui pengamatan fisik dan aktivitas penyu.
Ada tiga kolam rehabilitasi yang digunakan untuk merawat 22 penyu hijau tersebut.
Penyu berukuran besar ditempatkan di kolam medis, sedangkan yang lebih kecil ditempatkan pada dua kolam lainnya.
Penyu berukuran besar memiliki panjang sekitar 102 sentimeter dan lebar sekitar 98 sentimeter, dengan berat mencapai 100 kilogram yang memerlukan empat orang untuk mengangkatnya. Penyu kecil memiliki panjang dan lebar sekitar 40 sentimeter.
Selama berada di kolam rehabilitasi, penyu-penyu ini diberi pakan rumput laut seperti di habitat aslinya.
Meskipun asupan makanan dianggap cukup dan ideal di kolam, penyu akan lebih baik jika mencari makanan sendiri di alam bebas.
“Di alam bebas, mereka bisa makan terumbu karang mati, ubur-ubur, dan koral muda. Variasinya lebih banyak, sehingga kebutuhan nutrisi mereka terpenuhi secara optimal,” jelas Farida.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa