JEMBRANAEXPRESS.COM - Curah hujan tinggi sejak akhir tahun 2024 tidak hanya menyebabkan bencana alam di Kabupaten Tabanan, tetapi juga berdampak pada penurunan produksi beberapa komoditi perkebunan dan pertanian di daerah tersebut.
Salah satu yang terkena dampak adalah produksi manggis. Pada awal tahun 2025, panen manggis di Tabanan dilaporkan mengalami penurunan hampir 60 persen.
Jika sebelumnya petani dapat memanen sekitar 10 ton manggis, kini hasil panen hanya mencapai 4 ton.
Ketut Budiarta, salah seorang petani manggis dari Banjar Gempinis, Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur, mengungkapkan bahwa selain penurunan hasil panen, harga jual buah manggis juga tidak stabil.
"Produksi buah manggis pada periode panen awal tahun 2025 ini turun drastis hingga 60 persen. Biasanya kami bisa panen hingga 10 ton, sekarang hanya 4 ton. Harga jualnya juga tidak stabil," jelas Budiarta, Jumat (31/1/2025).
Namun, meskipun jumlah produksi menurun, Budiarta mencatat bahwa kualitas buah manggis justru lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, dengan buah yang lebih besar dan kulit mulus.
"Panen kali ini, kualitas buahnya lebih bagus dan lebih besar. Panen sebelumnya, jumlahnya memang melimpah tetapi buahnya kecil dan kulitnya keriput," tambahnya.
Dalam hal harga, saat ini manggis tingkat petani dihargai Rp 10 ribu per kilogram.
Meskipun dianggap murah, harga ini sudah mampu menutupi biaya operasional para petani.
"Ini masih harga awal panen. Harganya cenderung tidak stabil karena petani tidak memiliki nilai jual yang tetap. Rata-rata petani menyerahkan keputusan harga kepada pembeli," kata Budiarta.
Budiarta lebih lanjut menjelaskan bahwa musim panen manggis di Tabanan berlangsung dari Januari hingga Februari 2025.
Untuk pemasaran, petani mendapatkan kunjungan langsung dari tengkulak dan juga menerapkan sistem COD (cash on delivery) untuk memperlancar distribusi.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa