JEMBRANAEXPRESS.COM-Dua orang gadis remaja penari jaranan menjadi korban kecelakaan tabrak lari di Jalan Arowana Kebonagung, Kaliwates Jember Kamis (17/4/2025).
Kedua korban kecelakaan diketahui bernama Siti Aisyah ,17, warga Dusun Mencek, Desa Serut, Kecamatan Panti, meregang nyawa seketika di lokasi kejadian.
Tubuhnya terbujur kaku di atas aspal dingin, luka parah di kaki menunjukkan jejak ban truk yang masih membekas jelas di telapak kakinya.
Teman seperjalanannya, Nafisah ,17, asal Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, mengalami luka serius.
Ia dilarikan ke IGD RS Citra Husada dalam kondisi patah tulang di tangan kanan. Sepeda motor Honda Beat bernopol P 5540 GO yang mereka tumpangi ringsek tak berbentuk di tengah jalan.
Tak satu pun warga sekitar menyaksikan langsung detik-detik kecelakaan itu. Yang ditemukan hanyalah dua tubuh muda yang terkapar dan motor yang remuk.
Satu-satunya petunjuk hanyalah potongan sepatbor truk yang tertinggal di tepi jalan. Diduga kuat, truk besar melaju dari arah timur dan menyerempet mereka tanpa ampun.
“Saya cuma lihat dua cewek sudah tergeletak. Ada sepatbor truk jatuh. Kejadiannya pagi banget,” kata Wahyu, warga setempat.
Petugas kepolisian segera mengevakuasi jenazah Siti Aisyah ke kamar jenazah RSD dr Soebandi Jember.
Kanit Laka Lantas Polres Jember, Ipda Tommy Nur Alamsyah, membenarkan insiden tragis ini. Ia menyebut pengemudi truk melarikan diri ke arah timur sesaat setelah insiden terjadi.
"Diduga sopir terlalu ke kanan dan menyerempet motor korban. Pelaku langsung kabur. Kami imbau agar segera menyerahkan diri," tegasnya.
Namun luka di hati tak berhenti di sana. Terungkap, Siti Aisyah adalah remaja pekerja keras yang hidup hanya bersama sang nenek.
Ibunya menjadi TKW di luar negeri. Sejak SMP, ia sudah menekuni dunia jaranan, menari dari satu panggung ke panggung lain demi menyambung hidup.
“Semalam dia habis manggung di Mayang. Sudah saya larang pulang karena kemalaman, tapi dia tetap pulang, katanya ada keperluan,” ujar pamannya, Hariyanto, dengan mata sembab di kamar jenazah.
Peralatan jaranan masih menempel di motornya saat ditemukan—dua kuda lumping dan tas berisi kostum.
“Dia anak baik. Cari nafkah buat hidup. Keponakan saya meninggal saat berjuang. Kami hanya ingin keadilan. Semoga sopir itu punya hati nurani dan mau menyerahkan diri,” ucap Hariyanto lirih.
Tragisnya, ini bukan satu-satunya kejadian. Dua hari sebelumnya, kecelakaan serupa juga terjadi di simpang empat Dusun Sadengan, Desa Rowotengah, Kecamatan Sumberbaru. Jalanan kembali menelan korban jiwa, dan warga semakin resah.
Kini, warga Jember menanti jawaban. Kamera CCTV di sekitar lokasi sudah mulai diperiksa, dan satu harapan menggantung di udara: keadilan bagi Siti dan Nafisah.(*)
Editor : Suharnanto