JEMBRANAEXPRESS - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung tengah merancang pelaksanaan tradisi Ngaben Bikul atau ngaben tikus.
Langkah ini ditempuh setelah serangan hama tikus merusak puluhan hektare sawah dan menyebabkan gagal panen di wilayah tersebut.
Baca Juga: Karangasem Siap Jadi Tuan Rumah Cabor Bola Voli Porprov Bali XVI 2025
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disdperpa) Badung, I Wayan Wijana, mengungkapkan bahwa serangan hama tikus terjadi tidak hanya di Badung, tetapi juga di sejumlah daerah di Bali. Namun, kerusakan lahan di Badung cukup signifikan.
“Sudah banyak diserang, makanya Pemkab Badung berencana mengusir tikus secara niskala,” ujarnya, Selasa (26/8).
Dari total 9.000 hektare lebih sawah di Badung, sekitar 49,57 hektare terdampak serangan tikus yang tersebar di beberapa kecamatan.
Berdasarkan pendataan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dampak terbesar terjadi di Kecamatan Mengwi (24 hektare), disusul Abiansemal (12,4 hektare), dan Petang (13 hektare).
Baca Juga: Honda Stylo Bali Ramaikan HUT RI ke-80 Lewat Konvoi Merdeka dan Aksi Sosial
Meski terjadi gagal panen, Pemkab telah melakukan beberapa upaya pencegahan, antara lain mendorong subak mengadakan gerakan pengendalian tikus, menyalurkan bantuan pestisida racun tikus, serta memberikan perlindungan asuransi kepada petani.
“Selain tikus, ada juga serangan hama kresek, dan kami sudah siapkan pestisidanya,” tambah Wijana.
Pihaknya juga mengimbau petani untuk menjaga kebersihan saluran irigasi agar tidak menjadi sarang tikus.
Pemkab bahkan akan memberikan bantuan mesin pemotong rumput untuk pembersihan jalur irigasi.
Baca Juga: Buleleng Dorong PPPK Berperan Sebagai Penggerak Perubahan Lewat Wawasan Kebangsaan
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Badung, I Gde Eka Sudarwitha, menyatakan bahwa upacara Ngaben Bikul rencananya akan digelar kembali pada tahun 2026, setelah sebelumnya dilaksanakan pada 2020.
“Upacara ini sedang kami bahas dari sisi penganggaran dan waktu pelaksanaan. Tidak menutup kemungkinan akan digelar rutin, misalnya lima tahun sekali, sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Baca Juga: Pria di Surabaya Meninggal Usai Parkir Motor, Penyebab Terungkap
Tradisi Ngaben Bikul diyakini sebagai upaya niskala untuk menetralkan gangguan hama tanaman.
Selain tindakan teknis, pendekatan adat dan budaya ini menjadi bagian dari kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam dan pertanian di Bali.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa