JEMBRANAEXPRESS.COM - Kerusakan patung ikan Mola-Mola di kawasan Sampalan, Desa Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, menuai sorotan publik.
Garda Tipikor Klungkung mempertanyakan kualitas proyek bernilai Rp1,3 miliar itu, lantaran patung yang baru rampung akhir 2023 kini sudah dalam kondisi memprihatinkan.
Baca Juga: Ketua DPRD Tabanan Minta TAPD Menyerahkan Dokumen KUA-PPAS Lebih Awal
Ketua Garda Tipikor Klungkung, Nengah Duisna, menilai kerusakan tersebut tidak wajar.
“Proyek itu baru dua tahun selesai dibangun. Masak bisa begitu kondisinya? Tidak masuk akal,” ujarnya, Sabtu (30/8/2025).
Ia menambahkan, patung tersebut terbuat dari bata, sehingga semestinya tidak cepat rusak.
Baca Juga: Parade Budaya HUT Kota Negara, Semangat Ngayah Seniman dan Gotong Royong ASN
“Kalau kayu mungkin masuk akal cepat rusak, tapi ini dari bata. Patut dipertanyakan kualitas pengerjaannya,”tegas Duisna.
Selain kualitas, pihaknya juga menyinggung soal dugaan adanya potongan dalam proyek.
“Apakah ada potongan fee proyek terlalu banyak? Hal ini patut diselidiki,” tandasnya.
Berdasarkan catatan, proyek patung Mola-Mola masuk dalam paket Belanja Modal Gedung dan Bangunan – Belanja Modal Taman – Penataan Taman Kota dengan kontrak dimulai 10 Agustus 2023 dan rampung 8 Desember 2023.
Pengerjaan dilakukan oleh CV. Nusa Tirta dengan konsultan CV. Naturla Desain.
Baca Juga: Bangunan Kamar Suci di Pekutatan Jembrana Terbakar, Kerugian Capai Rp50 Juta
Proyek tersebut tidak hanya membangun patung ikan Mola-Mola, tetapi juga patung Catur Muka.
Saat itu, pengerjaannya sempat molor dari target dan sudah menuai sorotan lantaran ukuran patung dianggap kecil serta tidak proporsional dengan tugu penyangganya.
Camat Nusa Penida, Kadek Yoga Kusuma, saat dikonfirmasi (27/8) tidak menampik kerusakan patung itu.
Menurutnya, material yang rontok merupakan ornamen bata tempel, bukan struktur beton utama.
Baca Juga: Gubernur Bali Terima Aspirasi Driver Ojol, Tekankan Jaga Kondusivitas Pulau Dewata
“Patung Mola-Mola itu ornamen batu batanya lepas. Saat hujan deras, beberapa bagian rontok. Itu bukan beton penyangga, melainkan tempelan bata,” jelasnya.
Ia menegaskan pihak kecamatan sudah melaporkan kondisi ini ke pemerintah kabupaten.
“Kami sudah sampaikan ke Bappeda agar segera dilakukan perbaikan, tetapi memang perbaikannya belum masuk prioritas anggaran,” tambahnya.
Kini, kerusakan ikon wisata di Nusa Penida ini menjadi perhatian serius publik, terutama soal kualitas pengerjaan proyek yang menelan anggaran miliaran rupiah.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa