JEMBRANAEXPRESS.COM – Bencana banjir di Bali akibat curah hujan ekstrem mengakibatkan banyak korban jiwa serta harta benda.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 14 orang meninggal dunia, sementara dua korban banjir di Bali masih dalam pencarian hingga Kamis (11/9/2025).
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menjelaskan bahwa banjir dipicu curah hujan tidak biasa yang mencapai 385 mm dalam waktu 24 jam.
Fenomena ini dipengaruhi gelombang Rossby dan Kevin, sehingga hujan deras turun secara tiba-tiba tanpa bisa diprediksi.
“Curah hujan di Bali bahkan lebih besar dari bencana banjir yang terjadi di Bekasi pada Maret 2025 lalu. Hujan ekstrem ini menyebabkan lumpuhnya aktivitas di sejumlah kota dan kabupaten,” ungkap Suharyanto saat meninjau lokasi pengungsian di Tohpati.
Wilayah Terdampak Paling Parah
Setidaknya empat daerah di Bali terdampak banjir cukup parah, yaitu Denpasar, Badung, Jembrana, dan Gianyar. Dari total korban, sebagian besar ditemukan di Kota Denpasar.
“Korban meninggal dunia tercatat 14 orang, dan masih ada dua korban yang dalam pencarian tim gabungan,” tambahnya.
Pencarian dilakukan oleh tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan, yang hingga siang ini berhasil menemukan empat korban tambahan di sekitar Pasar Badung.
Status Tanggap Darurat Resmi Berlaku
Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan status tanggap darurat banjir selama satu minggu. Dengan status ini, pemerintah pusat turun langsung melalui BNPB untuk mempercepat penanganan.
“Kami pastikan seluruh kebutuhan warga terdampak, mulai dari logistik, pakaian dalam, susu anak, hingga kebutuhan khusus perempuan akan dipenuhi selama masa tanggap darurat,” tegas Suharyanto.
BNPB menegaskan bahwa pemerintah pusat bersama pemerintah daerah akan terus mendampingi warga hingga kondisi pulih.
Warga juga diminta tidak ragu melaporkan kebutuhan mendesak kepada aparat setempat agar bantuan cepat tersalurkan.
“Bencana banjir Bali ini adalah duka kita bersama. Pemerintah pusat bertekad membantu semaksimal mungkin,” pungkasnya.(*)
Editor : Suharnanto