JEMBRANAEXPRESS.COM - Di tengah suasana haru peringatan Bom Bali, Minggu (12/10), di Monumen Ground Zero, Kuta, tampak pemandangan yang sedikit berbeda.
Seorang wanita paruh baya duduk tenang di sisi jalan, di antara beberapa tangkai mawar merah yang tertata rapi.
Dialah Luh Sariani, penjual bunga yang selalu hadir setiap kali doa bersama digelar untuk mengenang para korban tragedi kemanusiaan di Kuta.
Luh Sariani mengaku mulai menjual bunga pada momen peringatan Bom Bali sekitar tiga tahun lalu.
Sejak itu, setiap tahun ia datang sejak pagi dengan membawa puluhan tangkai mawar segar.
Usahanya pun tidak sia-sia, karena banyak wisatawan terutama dari Australia yang membeli bunganya untuk diletakkan di monumen sebagai bentuk penghormatan.
“Sudah tiga kali saya jualan bunga di sini setelah Covid-19. Tahun lalu bawa 40 tangkai, habis 30. Sekarang bawa 50 mawar, masih sisa 15,” ujarnya sembari tersenyum.
Baca Juga: Cegah Gangguan Kamtibmas, Kelurahan Banjar Tengah Jembrana Gelar Sidak Penduduk Pendatang
Ia bercerita, ide menjual bunga justru datang dari seorang wisatawan yang menyarankan agar dirinya berjualan bunga untuk keperluan sembahyang.
“Ada tamu bilang, kenapa nggak jual bunga saja? Banyak yang butuh buat sembahyang. Akhirnya saya coba, dan ternyata lumayan,” tuturnya.
Wanita asal Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem ini menjual mawar dengan harga antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per tangkai.
Meski harga tersebut tergolong tinggi, para wisatawan jarang menawar.
“Mereka jarang menawar, jadi ya bersyukur bisa cukup buat makan,” ungkapnya.
Bunga-bunga yang dijual Luh Sariani didapatkan dari pemasok di sekitaran Kuta.
Namun, ia menegaskan bahwa tujuannya tidak semata mencari keuntungan.
Jika ada bunga yang tersisa, ia akan menaruhnya di monumen sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para korban.
“Kalau tidak habis, saya taruh di monumen. Saya juga ingin ikut mendoakan,” katanya pelan.
Sebelum menjual bunga, Luh Sariani sempat mengais rezeki dari jasa kepang rambut dan pijat untuk wisatawan.
Namun, usaha itu perlahan meredup sejak pandemi Covid-19 melanda.
Kini, berjualan mawar di momen peringatan Bom Bali menjadi cara baginya untuk tetap bertahan sekaligus ikut menjaga kenangan atas tragedi yang mengguncang Bali dua dekade lalu.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa