JEMBRANAEXPRESS.COM – Suasana haru dan penolakan menyelimuti SD Negeri (SDN) 5 Batuagung, Kabupaten Jembrana.
Sekolah dasar yang telah menjadi tempat belajar lintas generasi sejak tahun 1974 itu kini terancam diregrouping atau digabung ke SDN 3 Batuagung.
Rencana tersebut memicu gelombang penolakan keras dari para orang tua murid yang menilai kebijakan itu terlalu mendadak dan mengabaikan realitas sosial ekonomi masyarakat.
Regrouping direncanakan lantaran jumlah siswa SDN 5 Batuagung belum memenuhi standar minimal pemerintah pusat, yakni 70 siswa per sekolah.
Saat ini, sekolah tersebut hanya memiliki 63 siswa, terpaut tujuh anak dari batas yang ditetapkan. Meski selisihnya tipis, kebijakan penggabungan tetap diwacanakan.
Berdasarkan data sekolah, jumlah siswa tersebar di enam kelas, dengan rincian kelas I sebanyak 11 siswa, kelas II 10 siswa, kelas III 11 siswa, kelas IV 8 siswa, kelas V 14 siswa, dan kelas VI 8 siswa.
Baca Juga: KAI Bali Lantik 32 Pengacara Baru di Denpasar, Nyoman Gde Sudiantara: Jaga Marwah Advokat
Dengan kondisi tersebut, SDN 5 Batuagung direncanakan digabung ke SDN 3 Batuagung yang berjarak sekitar dua kilometer ke arah utara dari lokasi sekolah saat ini.
Penolakan mengemuka secara kompak saat kegiatan sosialisasi yang digelar oleh Dinas Pendidikan bersama pemerintah desa.
Para orang tua murid menyuarakan keresahan mereka, mulai dari jarak tempuh sekolah yang lebih jauh, kondisi jalan yang tidak sepenuhnya memadai, hingga keterbatasan ekonomi keluarga.
Salah seorang wali murid, Ida Bagus Yudi Kresna, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan sekolah tempat anak-anak mereka menimba ilmu akan ditutup dengan alasan efisiensi anggaran.
“Kami sangat kaget. Katanya karena efisiensi anggaran, tapi kenapa sekolah dasar yang dikorbankan. Padahal dari SD inilah dasar anak-anak bisa membaca, menulis, dan menjadi pintar,” ujarnya dengan nada emosional.
Kekhawatiran para orang tua tidak berhenti pada persoalan jarak. Banyak dari mereka harus bekerja untuk menghidupi keluarga.
Jika anak-anak dipindahkan ke sekolah yang lebih jauh, orang tua terpaksa menunggu hingga jam pulang sekolah karena tidak memiliki sarana transportasi.
Baca Juga: KAI Bali Lantik 32 Pengacara Baru di Denpasar, Nyoman Gde Sudiantara: Jaga Marwah Advokat
“Kalau anak sekolah jauh, kami harus menunggu sampai pulang. Sementara kami juga harus bekerja. Kami mohon, beri kami satu kesempatan lagi. Izinkan kami berjuang menambah jumlah siswa sampai 70 orang tahun depan,” pinta Yudi Kresna.
Nada yang sama disampaikan Ketua Komite SDN 5 Batuagung, Ida Bagus Sudita. Ia menegaskan, hasil rapat dan sosialisasi menunjukkan seluruh orang tua murid sepakat menolak rencana regrouping tersebut.
“Penolakan ini bukan tanpa alasan. Sosialisasi sangat minim sehingga terkesan mendadak. Jarak sekolah tujuan cukup jauh dan kondisi jalannya juga kurang baik. Anak-anak kami masih kecil, mereka butuh rasa aman,” jelasnya.
Baca Juga: Diskominfo Tabanan Sosialisasikan SPLP, Dorong Integrasi Data Antar OPD
Selain persoalan jarak dan ekonomi, para orang tua juga menyuarakan kekhawatiran terhadap kemampuan anak-anak beradaptasi di lingkungan sekolah baru.
Mereka menilai, SDN 5 Batuagung bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang tumbuh, tempat anak-anak mengenal dunia belajar dengan rasa aman dan kebersamaan.
“Pada dasarnya, orang tua murid masih sangat mencintai sekolah ini. Kami berharap pemerintah membatalkan regrouping. Kami berjanji akan berupaya keras meningkatkan jumlah siswa hingga di atas 70 orang,” tegas Sudita.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, membenarkan adanya rencana regrouping terhadap sembilan SD Negeri di wilayah Jembrana.
Baca Juga: Buka OPPETA IRC, Bupati Jembrana Tekankan Pentingnya Soft Skill Hadapi Tantangan Global
Ia menegaskan, kebijakan tersebut bukan semata soal efisiensi anggaran, melainkan juga krisis tenaga pendidik.
“Kami menghadapi kekurangan guru. Dalam dua tahun ke depan belum ada kepastian perekrutan, sementara setiap tahun selalu ada guru yang memasuki masa pensiun,” jelasnya.
Menurut Anom, dari total 28 SD Negeri yang sempat masuk tahap evaluasi, hasil kajian lapangan mengerucutkan jumlah tersebut menjadi sembilan sekolah.
SDN 5 Batuagung menjadi salah satunya dan baru menjalani sosialisasi pada Rabu kemarin.
Baca Juga: HUT ke-91 RSU Negara, Bupati Jembrana Tekankan Peningkatan Pelayanan Kesehatan yang Humanis
Meski demikian, ia menegaskan keputusan regrouping belum bersifat final.
Seluruh aspirasi dan penolakan masyarakat akan dijadikan bahan evaluasi sebelum diajukan kepada pimpinan daerah.
“Hasil sosialisasi akan kami sampaikan kepada Bupati untuk mendapatkan arahan selanjutnya. Ini masih kajian, belum keputusan akhir,” tutupnya.
Di tengah hitung-hitungan angka dan kebijakan, para orang tua berharap suara mereka tak tenggelam.
Bagi mereka, SDN 5 Batuagung bukan sekadar soal jumlah murid, melainkan masa depan anak-anak dan harapan sebuah generasi.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa