Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

#KitabOmongKosong

Suharnanto Jembrana Express • Sabtu, 23 Desember 2023 - 03:35 WIB
Ngurah Karyadi
Ngurah Karyadi

Oleh: Ngurah Karyadi*

 

Mencermati situasi Ipoleksosbudhankam negeri Indo-mie-nesia hari ini mirip kisah dalam Kitab Omong Kosong-nya Seno Gumira Ajidarma (SGA, 2001).

 

Penuh kebohongan,  tipudaya dan hari omong kosong (Hoax, atau Harmoko). Mulai dari wacana New Worlds Order-nya Klaus Swabs, perang Gaza, sampai Ibu Kota Negara-nya Jokowi. Semuanya dikendalikan korporasi para naga dan samurai dengan dukungan: Blackrock, Vanguard, atau pun Statestreet.

 

Dalam Kitab Omong Kosong diceriterakan tentang bencana persembahan "kuda" oleh Sri Rama dari negeri Ayodya bersama dengan ribuan bala tentara berkuda.

 

Persembahan kuda menjadi obat akan penyesalan atas ketidak percayaannya terhadap Dewi Sinta, terhadap kesucian titisan Dewi Laksmi itu ketika Rahwana menculik dan membawanya pergi ke negeri Alengka.

 

Sri Rama sangat terkejut, karena pada saat penyerbuan seluruh anak benua, ia bertemu dengan dua anak kembar laki-laki yang bernama Kusa dan Lawa.

 

Paralalel dengan gejala ke-iri-ana, yang menempatkan anak, menantu, ponakan dan ipar (AMPI) penguasa di panggung politik #NegeriPamanUsman.

 

Selanjutnya, mereka pun kemudian bertarung. Lalu, di luar dugaan Sri Rama, kedua anak yang hanya berusia sepuluh tahun itu sangat susah untuk dikalahkan.

 

Setelah itu, kemudian diketahui bahwa Kusa dan Lawa adalah anak kandung Sri Rama. Anak yang tidak pernah diketahui keberadaannya, tidak pernah dipertanyakan nasibnya, dan tidak pernah diusahakan untuk ditemui.

 

Kita masih nunggu hasil akhir upaya RakabumingLawa, yang naik KudaHambalang, dan PengarepKusa di panggung politik negeri.

 

Di tengah situasi yang malang, Dewi Sinta menerima permintaan maaf dari Sri Rama dan bersedia untuk kembali ke Ayodya. Namun, posisi Sri Rama sebagai seorang raja membuatnya selalu menerima kritikan yang membuat isu di kehidupan pribadinya.

 

Terlambat, karena kekalutan atas sikap tidak percaya, tidak dapat ditawar lagi. Memang cinta tidak akan bisa lahir di atas pondasi kepercayaan yang tidak kuat. Seperti Ibu Negara memaafkan Bapak Negara, yang kerasukan/kerauhan nafsu kuasa (will to power).

 

Adapun warga kebanyakan, mirip Maneka, yang merupakan seorang pelacur, dan menjadi salah satu korban dari persembahan penguasa.

 

Suatu hari, ia memutuskan untuk kabur dari rumah pelacuran yang sudah menjadi tempat tinggalnya sejak sang ayah menjual dirinya demi beberapa kepingan logam saja.

 

Maneka merasa tidak sanggup lagi untuk melayani seisi IKN sejak ia menyaksikan seorang berkepala putih menaiki kuda, dan melompat ke jendela, serta selanjutnya sekakarang berada di punggung bersama Maneka dalam pentas Kuda Lumping dengan slogan: #GabjaRUntukSemua.

 

Bersama melakukan perjalanan untuk menemui Walmiki, si penulis/pengarang kisahnya, untuk menuntun takdirnya bertemu dengan Satya, anak milenial,yang usianya berbeda, atau beberapa tahun di bawahnya.

 

Perjalanan itu membawa Maneka menemukan sejuta kejadian yang tidak terduga, mengharukan, menyedihkan, aneh, bahagia, dan sebagainya. Tidak ada satu peristiwa pun yang tidak berkesan, karena setiap detailnya selalu melahirkan cinta di antara mereka.

 

Cinta kepada tanah, air dan segala isinya yang tidak pernah dapat diungkapkan lengkap.

 

Walmiki sendiri yang hidup mengembara, juga mulai asing dengan kisah kehidupan yang ditulisnya.

 

Setelah Maneka, satu demi satu tokoh yang telah ia tulis riwayat hidupnya dalam kisah Ramayana, meminta izin untuk meninggalkan kisah yang ditulisnya, dan menulis riwayat hidupnya sendiri.

 

Mengikuti tempat, waktu dan keadaan (desa, kala, patra), senyatanya -bukan artifisial, atau polesan make ups.

 

Namun, setelah itu, pengembaraan Maneka dan Satya berlanjut untuk mencari Kitab Omong Kosong yang tersebar di lima tempat. Kitab itu sangat sulit ditemukan, karena Hanuman, si winara putih yang sakti menyimpan kitab itu di tiga dunia yang berbeda.

 

Bukan hanya dunia manusia saja, tetapi di dunia siluman, dan dunia para dewa. Maneka, dan kita, yang orang biasa perlu Watugunung, Ratumecaling, atau Hantujalanan dalam melawan, atau menjinakkan karsa kuasa, pada diri kita!

 

Melalui kisah ini, penulis mengajak untuk tidak terpaku pada skenario kisah yang indah, sempurna, dan tidak realistis seperti pidato Klaus Swabs dalam New World Order, atau pun IKN-nya Jokowi.

 

Semua diselimuti virus, konflik, atau perang peradaban abadi: Iluminati vs Anunaki. Terkadang, manusia suka lupa bahwa cerita-cerita yang dibacanya adalah kisah khayalan.

 

Banyak orang yang terlalu mencintai kisah fiksi itu, hingga tak sadar memaksanya untuk menjadi kenyataan.

 

Lalu, manusia cenderung selalu menuntut dunia untuk membahagiakan dirinya. Padahal, ia sendiri belum tentu pernah berusaha untuk membahagiakan dunia. Untuk itu, "mari kita tersesat kejalan yang benar, bukan benar dijalan sesat"!

 

Banyak orang yang berpura-pura pintar untuk menutupi kebodohannya. Sebaliknya, banyak orang yang berpura-pura bodoh untuk menutupi kepandaiannya.

 

Hal ini sangat berbahaya, karena akan mengecoh orang lain yang memercayai. Mengikuti peringatan politik Rocky: #GerungGorengGarong2x

 

*Penulis:  Aktivis HAM Tinggal di Jembrana

Editor : Suharnanto Jembrana Express