Moment ini menjadi viral dan mendapat berbagai tanggapan di kalangan massyarakat. Banyak khalayak yang begitu sedih dan kecewa atas keputusan gadis cantik multitalenta kebanggaan Bali akhirnya memeluk agama lain demi sang pujaan hati.
Sesungguhnya perpindahan agama (konversi agama) sudah sangat lumrah terjadi ketika pasangan yang akan menikah berasal dari agama yang berbeda. Pengantin harus memilih salah satu agama untuk dapat melangsungkan upacara perkawinan. Hal ini dikarenakan di Indonesia perkawinan beda agama dianggap tidak sah.
Di dalam ilmu filsafat, manusia dikenal memiliki kehendak bebas (free will) yaitu kapasitas atau kemampuan untuk dapat memilih di antara berbagai kemungkinan tindakan. Aristoteles menyatakan fakta bahwa tidak ada yang menghalangi kita untuk memilih atau melakukan sesuatu yang membuat kita memiliki kendali akan hal tersebut.
Ketika manusia telah memilih atau melakukan apa yang menjadi kehendaknya secara otomatis ada konsekuensi atau tanggung jawab yang menyertainya. Ketika manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih maka harus siap juga menerima respon bebas dari lingkungan sekitarnya.
Pro-kontra komentar masyarakat menanggapi keputusan Mahalini untuk merubah keyakinan yang dianut sejak lahir demi menikah dengan Rizky Febian. Tidak hanya menjadi perbincangan netizen di dunia maya namun juga menjadi percakapan di kalangan remaja, ibu-ibu PKK, bahkan dijadikan diskusi dalam ruang perkuliahan.
Akhirnya muncul pertanyaan, sebegitu tolerankah umat Hindu atau orang Bali sehingga amat mudah melepas keyakinan dan agamanya. Karena ini akhirnya menjadi perbincangan publik, penulis juga ingin turut berkomentar di dalamnya.
Hindu bukanlah agama yang menyiapkan wadah khusus atau memiliki agen misionaris untuk menyebarkan agamanya kepada orang lain. Hindu meyakini bahwa yang terpenting adalah kualitas bukan kuantitas umat. sehingga tidak perlu untuk mempromosikan agamanya kepada orang lain.
Hindu ingin agar orang yang datang adalah orang dengan kesadaran penuh dan atas keyakinan diri bukan karena janji-janji. Jikalaupun ada yang keluar dari Hindu itu merupakan pilihan hati yang sebelumnya telah dipertimbangkan secara matang.
Pertama, Bahkan bagi yang ingin sekedar mengikuti ritual upacara kegamaan Hindu khususnya masyarakat Bali tidak pernah mempermasalahkan atau menuntut untuk meng-Hindu-kan seseorang. Hubungan manusia dan Tuhan di dalam ajaran agama Hindu bersifat begitu privat. Tingkat religius atau spiritualitas seseorang bukan ditentukan dari justifikasi manusia.
Kedua, Hindu bukan agama otoriter yang mengatur secara ketat tata cara hidup umatnya. Hindu bukan agama yang mengajarkan hanya jalan tertentu untuk dapat mendekatkan diri dengan Tuhan.
Bukan juga agama yang memberikan sanksi kepada umatnya ketika melanggar sebuah ajaran. Hindu memberikan ruang kebebasan umatnya dalam memilih jalan mendekatkan diri dengan Hyang Widhi (Tuhan).
Walaupun Hindu begitu fleksibel bukan berarti umat dapat melakukan segala hal sesuai kemauannya. Percaya dengan Karmaphala (hukum sebab akibat) menjadi dasar dan pengikat setiap tindakan yang dilakukan umat Hindu. Apa yang ditanam itu pula yang akan dituai.
Ketiga, Budaya patrilineal yang dianut khususnya oleh masyarakat Bali sehingga pihak peremuan/istri otomatis mengikuti tradisi, adat, budaya dan agama pihak laki-laki/suami. Jadi sudah barang tentu dalam pernikahan ini Mahalini akan mengikuti tradisi dan agama suaminya.
Keempat, Hindu adalah Agama Damai karena tidak pernah mengajarkan bahwa Hindu adalah agama terbaik dan membandingkan dengan agama/kepercayaan lainnya. Vasudeva Kutumbhakam (kita semua bersaudara), filosofi ini menjadikan Hindu dan Bali pada khususnya begitu menghargai perbedaan suku, agama, rasa, budaya, bahasa dan perbedaan lainnya.
Kelima, Kebahagiaan dan kesenangan di dalam filsafat Hedonisme adalah tujuan hidup dari semua tindakan manusia. Paley salah satu tokoh Utilitarianisme menyatakan sebuah tindakan harus diestimasi berdasarkan kecenderungan hasilnya.
Apapun yang bermanfaat dan menimbulkan kebahagiaan, itu benar. Fakta bahwa beberapa jenis kesenangan lebih diinginkan dan lebih berharga daripada kesenangan yang lain. Keputusan Mahalini untuk mendapatkan kebahagiaannya dengan cara mengikuti agama suaminya, adalah benar jika dilihat dari sudut pandang Hedonisme dan Utilitarianisme.
Melalui kesempatan ini mari kita menghormati keputusan Mahalini. Meninggalkan komentar-komentar negatif hanya akan menurunkan kualitas diri kita sebagai manusia. Doakan yang terbaik untuk Mahalini dan Risky Febian agar dapat membangun keluarga yang harmonis serta bahagia sebagaimana yang diajarkan semua agama.(*)
Oleh: Ni Luh Putu Yuliani Dewi, M.Ag
Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja
Editor : I Putu Mardika