JembranaExpress.Com - Di tengah megahnya rangkaian upacara Ida Bhatara Turun Kabeh, langkah kaki rombongan Pemerintah Kabupaten Jembrana menapaki pelataran suci Pura Agung Besakih dengan penuh khidmat.
Dipimpin langsung oleh I Made Kembang Hartawan dan didampingi Wakil Bupati I Gede Ngurah Patriana Krisna, prosesi Bhakti Penganyar menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial.
Ia menjelma menjadi ruang hening untuk menata niat, menyelaraskan pikiran, dan memohon restu bagi perjalanan pembangunan daerah.
Baca Juga: Rp1,7 Miliar Digelontorkan, Tiga Akses Jalan di Candikusuma Jembrana Jadi Urat Nadi Ekonomi
Sebelum memasuki puncak persembahyangan di Penataran Agung, rombongan terlebih dahulu melakukan persembahyangan di pura pedarman masing-masing. Sebuah tradisi yang menegaskan akar spiritual sekaligus identitas kultural setiap peserta yang hadir.
Di pelataran utama, suasana terasa begitu sakral. Doa-doa dipanjatkan, dupa mengepul perlahan, dan harapan-harapan dititipkan dalam diam. Di sinilah, antara langit dan bumi, antara keyakinan dan tanggung jawab, makna Bhakti Penganyar menemukan kedalamannya.
Bupati Kembang Hartawan menegaskan bahwa kehadiran jajaran pemerintah bukan sekadar memenuhi kewajiban adat. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk memohon tuntunan dalam menjalankan amanah pembangunan.
Baca Juga: Ekspor Rp4 Miliar ke AS, Wabup Jembrana Tekankan Serapan Tenaga Kerja Lokal
“Bhakti Penganyar ini bukan sekadar ritual, tetapi momentum untuk menyucikan pikiran dan memohon agar program pembangunan di Jembrana berjalan lancar demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dalam pandangannya, pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur atau capaian fisik. Ada dimensi lain yang tak kalah penting keseimbangan antara sekala (nyata) dan niskala (spiritual).
Di tengah dinamika pemerintahan dan tuntutan pembangunan, nilai-nilai ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati lahir dari harmoni keduanya.
“Melalui Bhakti Penganyar ini, kita diingatkan untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan spiritual,” imbuhnya.
Pesan tersebut terasa relevan, terutama di Bali, di mana kehidupan masyarakat tidak pernah terlepas dari dimensi spiritual. Di Jembrana, nilai itu kini terus dihidupkan sebagai fondasi pembangunan.
Bhakti Penganyar pun menjadi simbol sinergi antara usaha nyata dan doa, antara kerja keras dan keyakinan. Sebuah refleksi bahwa membangun daerah bukan hanya soal apa yang terlihat, tetapi juga apa yang dirasakan dan diyakini.
Dari pelataran suci Besakih, harapan itu dipanjatkan. Agar Jembrana tidak hanya tumbuh sebagai daerah yang maju, tetapi juga tetap menjaga harmoni, keseimbangan, dan jati dirinya.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa