JEMBRANAEXPRESS.COM-I Nengah Tamba angkat bicara terkait keputusan I Gede Ngurah Patriana Krisna atau Ipat memilih bersama Kembang Hartawan di Pilkada 2024.
Ipat juga secara tegas memilih untuk berpisah dari Bupati Jembrana I Nengah Tamba.
Menanggapi sikap politik Ipat, Tamba mengaku tidak bisa mengintervensi keputusan wakilnya tersebut.
Meski begitu, sebagai seorang politisi, Tamba berharap Ipat lebih beretika, mengingat mereka berdua mengawali kebersamaan dengan baik dan tidak pernah ada masalah.
Dengan Ipat mengambil sikap politik berseberangan, Tamba yakin partai koalisinya tidak kekurangan kader untuk menjadi calon wakil bupati mendampinginya dalam Pilkada 2024.
“Koalisi Jembrana Maju (KJM) masih solid. Saat ini, saya menunggu keputusan dari koalisi. Teman-teman pimpinan koalisi masih berada di luar kota. Dalam dua hari ini, saya berencana mengadakan rapat dengan koalisi untuk membuat keputusan," ujarnya.
Tamba menegaskan bahwa ia tidak ingin hubungannya dengan koalisi menjadi buruk.
Baca Juga: Salam Perpisahan, Ipat Ucapkan Terima Kasih pada Tamba, Bisa Terpilih Jadi Wabup
Oleh karena itu, keputusan mengenai siapa yang akan menjadi wakilnya dalam Pilkada Jembrana 2024 akan diserahkan kepada partai koalisi. Ia berharap wakil yang dipilih memiliki dukungan, beretika, dan komitmen yang kuat.
Ia mengaku terkejut dengan keputusan Ipat yang berbeda dengan apa yang telah disepakati. Bahkan setelah Winasa bebas, Tamba masih yakin bisa bertarung dalam Pilkada mendatang berpasangan dengan Ipat.
“Kami bahkan telah membuat komitmen tertulis dan bermeterai saat purnama di Pura Pecangakan. Secara normatif dan faktual, sudah sepakat. Sudah selesai itu barang,” tegasnya.
Tamba merasa kecewa karena Ipat tidak pernah berkomunikasi dengannya mengenai keputusan tersebut. Jika saja sebelum ini Ipat berkomunikasi kepadanya, tentu situasi akan lebih sehat dan profesional.
“Tidak ada saling sindir dan perasaan kecewa. Di pilkada nanti mari saling adu program. Menang kalah itu biasa," imbuhnya.
Tamba juga mengungkapkan kekecewaannya karena Ipat, yang selama ini dianggap sebagai saudara, tidak berkomunikasi langsung terkait keputusan politiknya.
"Etikanya tidak ada. Namun, saya hormati dan hargai keputusannya. Itu haknya," pungkasnya. (*)
Editor : Suharnanto Jembrana Express