JEMBRANAEXPRESS.COM– Ketersediaan air bersih di Bali, terutama Nusa Penida, menjadi perhatian utama bakal calon Gubernur Bali, Made Muliawan Arya atau De Gadjah.
Hal disampaikan De Gadjah dalam acara masak besar yang digelar Chef sekaligus Youtuber Bobon Santoso di Lapangan Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, pada Rabu (18/9/2024).
De Gadjah menekankan pentingnya penataan wilayah Klungkung, terutama Nusa Penida yang menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Klungkung.
"Nusa Penida adalah sumber PAD Klungkung. Jangan sampai pembangunan di sana tidak terkontrol. Kami akan berdiskusi dengan masyarakat Klungkung untuk memastikan pembangunan yang teratur," ujarnya.
Salah satu perhatian utama De Gadjah adalah ketersediaan air bersih di Nusa Penida.
Ia mengungkapkan bahwa usulan mengenai penyediaan air bersih telah diajukan kepada Presiden terpilih, Prabowo Subianto.
"Soal air bersih sudah kami ajukan ke Pak Presiden, bukan hanya di Nusa Penida, tetapi juga di Karangasem dan Buleleng. Kami akan terus mengawal hal ini," tegas De Gadjah, yang juga merupakan Ketua DPD Gerindra Provinsi Bali.
De Gadjah juga membandingkan antara penyediaan air bersih dan pembangunan Pusat Kebudayaan Bali (PKB), yang saat ini belum rampung.
"Mana yang lebih penting, air bersih atau pembangunan PKB? Air bersih itu urusan pusat, sementara PKB adalah program Pak Koster," katanya.
Meski demikian, jika pasangan Mulia-PAS terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Bali, De Gadjah memastikan akan melanjutkan pembangunan PKB, namun dengan konsep yang berbeda.
"Kami tidak ingin berhutang atau membebani APBD, apalagi merugikan rakyat. Kami akan mendiskusikan konsepnya dengan masyarakat agar bisa memberikan manfaat bagi Bali dan Klungkung, terutama bagi UMKM di daerah tersebut," lanjutnya.
Ketika ditanya soal pembangunan PKB, De Gadjah menegaskan bahwa program tersebut adalah murni milik Wayan Koster, termasuk proyek Turyapada Tower.
"Program kami di Mulia-PAS sudah jelas, mulai dari sektor pendidikan, nutrisi, kesehatan, rumah sakit, sekolah unggulan, kebudayaan, hingga pembangunan Bandara Bali Utara dan Tol Gilimanuk," tandasnya.
De Gadjah juga menegaskan bahwa pembangunan PKB menggunakan pinjaman dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan APBD untuk pembebasan lahan, yang menyebabkan utang bagi masyarakat Bali.
"Sekarang masyarakat Bali berutang, karena itu bukan program pusat," pungkasnya. (*)
Editor : Suharnanto Jembrana Express