DENPASAR, JEMBRANA EXPRESS - Bunuh diri merupakan isu kompleks dengan penyebab yang bervariasi.
Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, seorang akademisi Kedokteran Jiwa dari Universitas Udayana, mengungkapkan bahwa fenomena bunuh diri ini semakin meningkat, terutama di kalangan Generasi Z.
Ia mengaitkan kerentanan mereka dengan aspek keluarga, khususnya pada 10 tahun pertama kehidupan anak.
Dr. Cokorda menyoroti kurangnya pengawasan orang tua terhadap pertumbuhan anak di era informasi dan teknologi saat ini.
"Dengan gempuran teknologi informasi global, seluruh dunia, menggempur mereka tanpa filter; mana yang baik dan buruk. Ini masuk begitu saja sehingga ketika mereka (Generasi Z) menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan pikiran mereka, maka pikiran bunuh diri itu muncul," jelasnya.
Menurut Dr. Cokorda, dukungan dari keluarga dan teman-teman dapat menjadi kunci untuk mencegah bunuh diri.
Meskipun bunuh diri tidak memandang usia, pendidikan, ekonomi, atau status sosial, dukungan sosial dapat memainkan peran penting dalam menangani kondisi tersebut.
Sayangnya, meskipun jumlah kasus bunuh diri meningkat, pemerintah dan masyarakat dinilai kurang peduli.
Dr. Cokorda menyebutkan bahwa di Bali sendiri, terdapat sekitar 80-100 kasus bunuh diri setiap tahun, dengan tren meningkat pada tahun 2023.
Ia menegaskan perlunya kesadaran dan tindakan dari pemerintah serta masyarakat untuk mencegah lebih banyak kasus bunuh diri.
Dr. Cokorda juga menyoroti ketidakpedulian pemerintah terhadap masalah ini, menyebut bahwa orang yang mencoba bunuh diri sering tidak mendapatkan dukungan karena dianggap keinginan pribadi.
Ia mengajak masyarakat untuk menuntut perubahan kebijakan dan penanganan masalah kesehatan mental.
Akhirnya, Dr. Cokorda memberikan pesan kepada mereka yang merasa ingin bunuh diri untuk segera mencari pertolongan, baik dari orang terdekat atau tenaga profesional seperti psikolog klinis atau psikiater.