GIANYAR, JEMBRANA EXPRESS - Bali merasakan kehilangan mendalam dengan berpulangnya tokoh pariwisata terkemuka, Mangku I Nyoman Kandia, yang selalu gigih dalam mengangkat potensi desa wisata.
Mangku Kandia menghembuskan nafas terakhirnya di RSUP Prof Ngoerah Sanglah Denpasar pada Selasa (16/1) dini hari sekitar Pukul 01.00 WITA.
Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam, karena hingga saat-saat terakhir, Mangku Kandia masih berdedikasi penuh untuk kemajuan desa wisata.
Putri bungsunya, Ni Kadek Ayu Diah Natalia, 26, mengungkapkan bahwa sebelum meninggal dunia, Mangku Kandia baru saja menyelesaikan tugasnya selama 4 hari di Yogyakarta sebagai assesor desa wisata.
Setelah pulang, beliau mengeluh sakit pada kaki dan mengalami sesak di dada keesokan harinya.
"Bapak merasakan kakinya bengkak. Lalu besoknya langsung merasa sesak di dada," jelas putrinya saat diwawancara di rumah duka Banjar Bantanancak, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali, Selasa (16/1) sore.
Mangku Kandia mengalami keluhan kesehatan yang mendahului kepulangannya, seperti keluhan pada paru-paru yang diduga dipicu oleh aktivitas masa lalu sebagai pengrajin kayu di Desa Mas.
Menurut Lia, demikian ia akrab dipanggil, ayahnya terlalu aktif dan mungkin terlalu lelah.
Sebagai asesor desa wisata, dia melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke selama 6 bulan terakhir.
Setelah tiba di rumah dari Kalimantan Timur, Mangku Kandia melanjutkan perjalanan ke Papua.
Selama tugasnya, ia tidak hanya berfokus pada pengembangan desa wisata, tetapi juga mengabadikan momen berharga di media sosial.
Mangku Kandia, yang meninggalkan dunia pada usia 57 tahun menjelang ulang tahunnya pada 25 Februari 2024, dikenal sebagai Ketua Pokdarwis Bali dan seorang pejuang yang ambisius dan bertanggung jawab.
Meskipun ia telah mencapai impian pribadinya, yaitu menikahkan kedua anaknya, I Gede Leo Satriya Wijaya dan Ni Kadek Ayu Diah Natalia, ia tetap memiliki hasrat yang tak terpadam untuk memberdayakan masyarakat desa.
Lia menuturkan bahwa ayahnya terus bekerja bahkan ketika merasa sakit, fokus pada pembuatan dokumen sebagai asesor desa wisata.
"Menurut kami, bapak sudah melakukan hal yang maksimal, bisa dikatakan overworking. Tapi begitulah beliau, memang aktif. Saat pandemi Covid saja, beliau tetap aktif mengikuti 50 kali zoom meeting per hari," ujarnya.
Dalam duka yang mendalam, Bali kehilangan seorang pionir pariwisata yang tak kenal lelah dalam memajukan desa wisata.
Semangat dan dedikasi Mangku I Nyoman Kandia akan tetap dikenang dalam setiap langkah kemajuan pariwisata Bali. (*)