Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Bosan olahan Ikan yang Monoton, Cobalah dengan Menu Plongos khas Seririt

I Putu Mardika • Kamis, 11 April 2024 | 20:10 WIB

Plongos yang diproduksi Kadek Novi Aryani siap untuk dipasarkan
Plongos yang diproduksi Kadek Novi Aryani siap untuk dipasarkan
JEMBRANA EXPRESS-Bagi penikmat olahan sea food, mungkin sudah menjadi hal yang biasa menyantap ikan bakar maupun sop ikan. Coba deh mengubah menu sajian ikan laut dengan olahan Plongos.

Olahan ikan plongos menjadi salah satu alternatif yang layak dicoba, bagi yang berada di Buleleng.

Plongos begitu dikenal di wilayah Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, Buleleng. Ikan yang kerap diolah menjadi menu Plongos itu adalah ikan terbang dan ikan Bulus.

Ikan ini jarang dijual secara langsung. Melainkan diolah terlebih dahulu agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Salah seorang pedagang Plongos, Kadek Novi Ariani, Warga Desa Kalianget, Kecamatan Seririt. Ikan tersebut diperoleh dari sang ayah yang menjadi nelayan di Desa Pengastulan.

Setiap hari, rata-rata ia dipasok mulai dari 30 sampai 50 ekor ikan terbang. Itupun jika kondisi cuaca mendukung, sehingga hasil tangkapan maksimal.

Namun, tak jarang Novi gigit jari, karena kondisi cuaca yang buruk, sehingga tidak bisa membawa pulang ikan segar.

Ikan hasil tangkapan yang kondisinya masih segar tersebut kemudian dicuci hingga bersih.

Selanjutnya ditusuk dengan kayu, lalu dipanggang sampai matang. Seluruh proses ia lakukan sendiri tanpa melibatkan karyawan.

“Kalau ikan yang dipanggang biasanya dibelah. Tetapi kalau untuk plongos cukup dibersihkan bagian perut, lalu dipanggang dengan kondisi utuh,” jelasnya.

Setelah matang, ikan tersebut lalu dibaluri bumbu secara merata. Bumbu tersebut dibuat dari bahan cabe  rawit, cabe Lombok, gula pasir, terasi, garam dan limau. Bumbu yang sudah dihaluskan itu tidak perlu lagi digoreng.

Sebab, bumbu tersebut akan  dipanggang kembali Bersama ikan agar bumbunya semakin meresap sampai ke dagingnya.

“Proses dari memanggang itu tidak lebih dari sejam. Biasanya satu jam sudah tuntas dan siap untuk dipasarkan” sebutnya sembari menyebut jika ktifitas memproduksi plongos ini sudah ia tekuni sejak 2019 silam.

Harga tiap ekor plongos beragam. Mulai dari Rp 7 ribu per ekor hingga Rp 10 ribu rupiah. Perbedaan harga tersebut dipengaruhi oleh besar kecilnya ikan.

“Kalau besar harganya lebih mahal. Kalau ukurannya lebih kecil cukup 7 ribuan saja,” jelasnya.

Plongos sebut Novi kemudian dijual secara online. Baik melalui WhatsApp maupun Instagram. Pelanggannya beragam.

Ada yang dari seputaran Kecamatan Seririt. Ada pula dari Kawasan Kota Singaraja.

Pelayanannya pun diantar langsung. Tetapi tidak jarang juga pelanggan yang datang langsung ke rumahnya untuk mengambil pesanannya.

Dalam sehari, Novi bisa mengantongi omset hingga Rp 500 ribu dari penjualannya.

Plongos ini bisa tahan hingga dua hari. Cara mengawetkannya dengan disimpan di kulkas. Selain itu, plongos yang dibuatnya bisa langsung dikonsumsi, karena sudah matang.

Ikan ini sangat cocok disajikan dengan nasi hangat. Tampilannya yang menggoda dengan warna sambal kemerahan sungguh menggoda selera makan.

Ia pun tak menampik, jika usaha rumahan ini mengalami pasang surut.

Terutama diakibatkan oleh cuaca. Sebab, jika tidak ada ikan yang dipasok, maka dirinya tidak bisa memproduksi Plongos untuk dijual.

“Memang produksi ini tergantung cuaca. Kalau lagi bagus, tentu bisa lebih banyak produksinya. Kalau sudah cuaca buruk, ya terpaksa harus libur dulu sejenak,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Pengastulan #ikan #plongos #bumbu #buleleng #laut #seririt