JEMBRANAEXPRESS.COM-Desa Sembiran di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, merupakan salah satu Desa Bali Aga yang masih Lestari hingga saat ini.
Salah satu wujud nyata pelestarian di Desa Sembiran terlihat jelas dari rumah adat Bali yang tertata rapi dan mencerminkan filosofi egaliter dalam kehidupan masyarakat.
Rumah-rumah tradisional di Desa Sembiran dibangun menggunakan material alami seperti batu, bambu, dan alang-alang.
Tata ruangnya unik, selaras dengan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali yang diwariskan secara turun-temurun.
Setiap elemen rumah memiliki fungsi khusus berdasarkan aturan adat, mulai dari tempat tinggal hingga pelaksanaan upacara.
Tokoh adat setempat, Nengah Arijaya, menjelaskan bahwa posisi geografis Desa Sembiran yang dikelilingi perbukitan di sisi barat, utara, dan timur menciptakan karakter pemukiman yang padat dan tanpa tembok pembatas antar rumah. Model pemukiman ini dikenal masyarakat lokal dengan sebutan Kuta Kurung.
Rumah warga terbagi dalam deretan pekarangan yang memanjang dari arah laut (kelod) menuju perbukitan (kaja), mencerminkan struktur sosial dan kepercayaan adat Bali Aga.
Tiap pekarangan ditempati satu keluarga inti, dengan bentuk dan pola bangunan seragam, saling berhadapan, dan membentuk jalur pemukiman tanpa dinding pembatas.
Pekarangan rumah dilengkapi beberapa bangunan utama seperti:
- Umah meten: ruang tidur keluarga.
- Paon: dapur tradisional.
- Sanggah: tempat pemujaan leluhur keluarga.
Selain itu, ada juga bale meten dan paon yang digunakan untuk aktivitas harian maupun upacara adat.
Semua bangunan memiliki aturan bentuk, ukuran, dan material yang harus dipatuhi. Walau kini beberapa rumah telah mengalami modifikasi karena pengaruh zaman, bangunan utama seperti bale meten dan paon tetap dijaga keasliannya.
Di luar pekarangan warga, terdapat beberapa bangunan adat desa yang bersifat sakral dan berfungsi sebagai pusat kegiatan adat serta spiritual masyarakat. Di antaranya:
- Bale Agung: bangunan paling besar dan sakral, hanya bisa digunakan oleh kalangan tertentu untuk sangkep atau pertemuan rutin desa adat.
- Bale Kulkul: tempat tergantungnya kulkul desa (kentongan besar) yang dibunyikan saat upacara adat.
- Bale Banjar: tempat kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat.
- Bale Desa: bangunan baru berarsitektur modern, digunakan untuk keperluan administratif desa dinas.
Bangunan-bangunan ini menjadi bukti kuat bahwa Desa Sembiran tidak hanya mempertahankan bentuk fisik arsitektur tradisional, tetapi juga esensi fungsi sosial dan spiritual yang menyertainya.
Dengan kekayaan budaya dan arsitektur Bali Aga yang autentik, Desa Sembiran berpotensi besar dikembangkan sebagai desa wisata budaya di Bali Utara.
Kearifan lokal yang masih terjaga, tata ruang desa yang khas, serta keramahtamahan masyarakatnya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan kehidupan Bali Mula secara langsung.(*)
Editor : Suharnanto