Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Di Balik Macet 35 Km Menuju Gilimanuk: Kisah Warga Kaliakah Jual Nasi Jinggo hingga Jadi Ojek Dadakan Bertarif Rp 150 Ribu Sekali Trip

I Gde Riantory Warmadewa • Minggu, 15 Maret 2026 | 13:51 WIB
Aktivitas warga yang mengais rejeki menjadi ojek dadakan di Perempatan Tugu Kaliakah, Kecamatan Negara, Minggu (15/3/2026). (I Gde Riantory Warmadewa/Jembrana Express)
Aktivitas warga yang mengais rejeki menjadi ojek dadakan di Perempatan Tugu Kaliakah, Kecamatan Negara, Minggu (15/3/2026). (I Gde Riantory Warmadewa/Jembrana Express)

 

JembranaExpress.Com - Terik matahari siang itu menyengat di jalur nasional Denpasar–Gilimanuk, tepatnya di wilayah Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali.

Deretan kendaraan mengular sejauh mata memandang. Mesin truk, bus, dan mobil pribadi menyala tanpa bergerak berarti.

Baca Juga: Arus Mudik Denpasar–Gilimanuk Macet Parah, Antrean Kendaraan Mengular 30 Km Hingga Depan Polsek Negara

Kemacetan menuju Pelabuhan Gilimanuk bahkan disebut mencapai sekitar 35 kilometer.

Namun di balik antrean kendaraan yang melelahkan bagi para pemudik, ada cerita berbeda dari warga sekitar yang justru menemukan peluang rezeki.

Di sepanjang pinggir jalan Desa Kaliakah, puluhan warga tampak berdiri dengan berbagai dagangan sederhana.

Ada yang membawa termos kopi, ada yang memanggul nasi bungkus, dan sebagian lainnya menawarkan air mineral serta makanan ringan.

Baca Juga: Masikian Fest 2026 Tetap Digelar di Tengah Efisiensi Anggaran, Peserta Justru Meningkat

Dari pantauan di lokasi pada Minggu (15/3/2026), dagangan seperti nasi jinggo, kopi hangat, air mineral, hingga camilan laris manis dibeli para sopir truk dan pemudik yang mulai kelelahan setelah berjam-jam terjebak dalam antrean kendaraan menuju pelabuhan.

Di antara para pedagang dadakan itu, terlihat Wayan Netri (48) yang sibuk menuangkan kopi dari termos ke dalam gelas plastik.

Baca Juga: Lonjakan Pemudik dan Truk Sumbu Tiga Picu Kemacetan Panjang di Jalur Gilimanuk, Antrean Kendaraan Sempat Mengular hingga 25 Km

Sejak pagi ia memilih berdiri di pinggir jalan setelah melihat kemacetan panjang yang tidak biasa terjadi hingga desanya.

Menurut Netri, pemandangan kendaraan yang tak bergerak membuatnya merasa kasihan pada para sopir truk yang harus menunggu lama.

“Tumben macetnya sampai ke Desa Kaliakah ini. Kasihan lihat para sopir truk yang harus menunggu lama, jadi kami tawarkan kopi dan makanan untuk pemudik,” ujarnya.

Baginya, berjualan di tengah kemacetan ini bukan hanya soal mencari tambahan penghasilan, tetapi juga membantu para pemudik yang kelelahan di perjalanan.

Baca Juga: Dari Permainan Tradisional Jadi Olahraga: Domino Orado Mulai Berkembang di Buleleng

Di tengah antrean kendaraan yang tak kunjung bergerak, sebagian penumpang bus dan kendaraan travel akhirnya memilih turun dan berjalan kaki menuju Pelabuhan Gilimanuk.

Pemandangan orang berjalan di pinggir jalan sambil membawa tas menjadi hal yang lumrah hari itu.

Melihat kondisi tersebut, beberapa warga langsung memanfaatkan kesempatan dengan membuka jasa ojek dadakan.

Salah satunya Ketut Oki (46). Ia awalnya hanya melintas di kawasan tersebut setelah mengantar istrinya bekerja.

Baca Juga: Nahas di Jalur Mudik Jembrana, Calya Tabrak Motor Diam, Bocah 10 Tahun Tak Tertolong

Namun ketika melihat banyak pemudik berjalan kaki, ia mencoba menawarkan jasa antar menggunakan sepeda motor.

“Saya coba tawarkan jasa ojek, ternyata mereka sangat antusias. Tarifnya bervariasi, sesuai keikhlasan saja karena niatnya juga membantu,” katanya.

Dalam sekali perjalanan, Oki bisa menerima bayaran sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu dari pemudik yang ingin segera sampai ke pelabuhan.

“Kemarin saya dapat dua orang. Hari ini sampai jam 11.00 Wita sudah dapat dua lagi,” tambahnya.

Tak hanya warga yang membuka jasa dadakan, tukang ojek yang sehari-hari mangkal di sekitar wilayah itu juga ikut turun membantu.

Nengah Poster (65), salah satunya. Pria paruh baya itu terlihat berkeliling menawarkan jasa kepada pemudik yang tampak kelelahan berjalan kaki di tengah panas.

Baca Juga: Kericuhan Pecah di Pelabuhan Gilimanuk, Sopir Travel Bodong Diduga Memaksa Masuk Kapal hingga Adu Fisik dengan Petugas

“Awalnya cuma iseng menawarkan. Siapa tahu ada yang mau diantar, ya saya tawarkan saja. Tarifnya seikhlasnya,” ujarnya singkat.

Bagi Poster, membantu pemudik sekaligus menjadi kesempatan untuk menambah penghasilan di hari yang tidak biasa.

Hingga siang hari, kepadatan kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk masih belum sepenuhnya terurai. Antrean panjang masih terlihat di sejumlah titik jalur nasional Denpasar–Gilimanuk.

Petugas kepolisian bersama instansi terkait terus melakukan pengaturan lalu lintas untuk memperlancar arus kendaraan menuju pelabuhan penyeberangan Bali–Jawa tersebut.

Baca Juga: Hijasmita, Brand Scarf Jakarta Timur yang Angkat Ornamen Lokal hingga Tembus Pasar Internasional

Sementara itu, para pemudik yang masih terjebak antrean diminta untuk tetap bersabar dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Di tengah kemacetan panjang yang melelahkan bagi para pelintas jalan, warga Desa Kaliakah justru menemukan cara sederhana untuk bertahan dengan secangkir kopi hangat, nasi bungkus, dan tumpangan ojek menuju pelabuhan..***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#kemacetan jalur denpasar gilimanuk #ojek dadakan #100 ribu per trip #jembrana #arus mudik