"Biasanya saya hanya bermain dengan dua, tiga, atau empat pemain yang berpuasa. Sekarang, kami bersama dengan sebagian besar pemain. Ya, itu istimewa," tambahnya.
Ragnar juga merasa istimewa bisa mendengar adzan di mana pun dan kapan pun di Indonesia.
"Pertama kali saya mendengarnya saat berlatih," ungkapnya.
"Saya sedang berlatih dan mendengar adzan. Bagi saya, itu sangat indah. Mendengarnya dengan suara doa bersama-sama, itu sangat menarik," imbuhnya.
Ragnar kemudian menceritakan perjalanannya menjadi mualaf.
Sebelumnya, ia beragama Kristen dan kemudian memutuskan untuk memeluk agama Islam pada usia 15 tahun.
Teman-temannya sering mengajaknya ke masjid.
"Saat itu, mereka membawa saya ke masjid untuk belajar tentang Tuhan dan agama, dan bagaimana itu bisa membantu hidup. Hal itu menyentuh saya dan membuat saya memutuskan untuk menjadi muslim," tuturnya. ***