Bisnis Hobi Hukrim Ketapang-Gilimanuk Metro Negara News Opini Politika Selebriti Seputar Bali Sport Taksu Wisata

Ini Makna Pura Prajapati dalam Yama Purana

I Putu Mardika • 2024-04-29 21:21:36

Bendesa Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna
Bendesa Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna
JEMBRANA EXPRESS-Desa adat di Bali umumnya tidak hanya memiliki Pura Dalem semata. Tetapi juga memiliki Pura Prajapati. Pura ini rata rata berlokasi di hulu setra atau kuburan di Bali.

Pura Prajapati dan Pura Dalem memang memiliki perbedaan.

Bendesa Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna yang juga penekun lontar menjelaskan, dalam Yama Purana Tattwa, dikisahkan bahwa roh yang masih berstatus sebagai preta (roh yang belum disucikan) harus disthanakan di setra dengan Pura Prajapati sebagai hulunya.

Hal ini untuk menghindari, jangan sampai roh tersebut menjadi atma diya-diyu atau roh yang mengganggu kehidupan di alam yang nyata.

Sementara itu Pura Prajapati sebagai bagian dari Pura Kahyangan Tiga itu sendiri dibangun di ulu setra dalam bentuk padma capah dan babaturan sthana yang disebut sadahan setra.

Baca Juga: Pura Penataran Pande Tamblingan: Pusat Alutsista Era Bali Kuno, Jejak Peradaban Pande di Bali

Pura Prajapati ini merupakan tempat pemujaan Dewi Durga, sekaligus sebagai sthana Sang Hyang Panca Maha Bhuta, dalam wujud Bhuta Sweta, Bhuta Rakta, Bhuta Jenar, Bhuta Ireng, Bhuta Mancawarna, Bhuta Ulu Singha, Bhuta Ulu Gajah, Bhuta Brahma, Bhuta Yaksa, Bhuta Siwa Geni, Bhuta Udug Basur, yang merupakan unsur-unsur pembentuk alam semesta itu sendiri.

“Maka Pura Prajapati itu merupakan sthana dewa yang berwenang untuk mengurus kematian manusia. Itu sebabnya muncul kesan bahwa Pura Prajapati ini merupakan pura yang angker,” jelasnya.

Namun demikian Pura Prajapati juga dijadikan sebagai tempat pemujaan Dewa Brahma Prajapati sebagai pencipta (utpatti) semesta alam, yang dilakukan pada saat piodalan dari Pura Prajapati itu sendiri.

Hal ini tampak dalam bunyi mantra yang diucapkan saat piodalan itu sendiri.

“Selain itu Pura Prajapati juga sebagai tempat pemujaan Dewi Durga. Hal ini tampak pada saat upacaya ngaben yang diselenggarakan.

Mantera yang diucapkan ditujukan kepada Dewi Durga,” sebutnya.

Meburutnya, hubungan erat antara Dewa Brahma dan Dewi Durga ini terekam jelas dalam kisah turunnya Dewi Uma, yang terkena kutuk Dewa Siwa menjadi Dewi Durga, yang lalu ber-sthana di setra itu.

Pada saat itu Dewi Durga merasa kelaparan yang teramat sangat, karena tidak ada yang dapat disantap.

Dewi Durga lalu memohon santapan kepada Dewa Brahma. Sang Dewa lalu mengizinkan Sang Dewi untuk menjadikan manusia yang hidup secara adharma sebagai santapannya.

“Dewa Brahma juga menganugerahi Dewi Durga kekuatan gaib berupa pelbagai jenis penyakit guna menghancurkan orang-orang yang adharma itu, di samping sebagai sarana pelebur badan manusia, yang telah saatnya meninggalkan dunia,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#dewi durga #siwa #Brahma #pura #Prajapati #Pura Dalem