Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga menjelaskan Tirtha pengentas merupakan salah satu tirtha dalam upacara pitra yadnya atau upacara ngaben.
Tirtha pengentas merupakan sebagai sarana terpenting dalam upacara ngaben yang diyakini sebagai tirtha pemutus roh dari keterikatan duniawi. Jika dalam upacara ngaben tidak mengggunakan tirtha pengentas, maka diyakini upacara ngaben dikatakan belumlah selesai atau dikatakan tujuan dari upacara ngaben belum tercapai.
Ariyoga menyebut, tirta pengentas merupakan sarana yang digunakan pada upacara pitra yadnya dengan memiliki makna untuk mengarahkan atau membimbing sang roh agar bisa menuju alam sunya. Tirtha pengentas dalam upacara ngaben biasanya dibuat oleh seorang Sulinggih.
Sulinggih berperan untuk menjadi perantara antara umat dengan Tuhan. Melalui tirtha pengentas maka dapat membantu roh untuk mencapai tujuannya. Maka dari itu, tirtha pengentas merupakan tirtha yang paling penting dalam upacara pitra yadnya
dalam upacara pitra yadnya, tirtha pengentas dibedakan menjadi dua. Pertama tirtha pengentas digunakan saat upacara mependem atau mekinsan di pertiwi. Biasanya sawa (jenasah) dikubur. Sebelum dikubur diperciki dengan tirtha pengentas yang didapat dari Sang Sulinggih.
Tirtha pengentas pada prosesi ini berfungsi sebagai pengarah agar roh bisa menemukan jalan ke alam niskala. Sedangkan yang kedua, tirtha pengentas digunakan saat upacara ngaben. Tirtha ini juga diproleh dari seorang Sulinggih.
Sarana tirtha pengentas diyakini untuk menuntaskan prosesi upacara ngaben serta menuntun sang roh agar bisa mencapai alam sunya. Tirtha pengentas juga berfungsi untuk membebaskan roh dari segala ikatan duniawi sehingga bisa mencapai tujuannya.
“Tirtha pengentas merupakan sarana yang paling penting dalam upacara pengabenan pada masyarakat Hindu. Tirtha pengentas memiliki fungsi untuk memotong segala jenis ikatan antara materi (jasad) dengan roh,” kata Ariyoga.
Selain sebagai pemutus hubungan, tirtha pengentas juga berfungsi untuk melebur ataupun membebaskan roh dari pengaruh ikatan materi, agar dapat mencapai alam sunya. Secara umum tirtha pengentas dibuat oleh seorang Sulinggih.
Karena dibuat oleh seorang sulinggih maka tirtha pengentas juga disebut sebagai tirtha siwa. Tirtha pengentas dalam upacara ngaben memiliki kedudukan yang paling tinggi. Hal ini dikarenakan fungsi dari tirtha pengentas adalah sebagai sarana untuk membebaskan roh dari ikatan materi.
“Ini sejalan dengan tujuan dari upacara ngaben adalah untuk mengembalikan unsur material sehingga roh bisa mencapai kualitas yang lebih tinggi. Keberhasilan upacara ngaben adalah dengan adanya tirtha pengentas yang dibuat oleh seorang sulinggih,” imbuhnya.
Pada proses pembuatan tirtha pengentas digunakan beberapa sarana penting seperti dua periuk yang diiisi dengan akasara dasa aksara, toya anyar (air bersih), ambengan (daun ilalang), don dapdap, padang lepas, jijih, ulangtaga, wewalungan (kayu cendana), mirah, pripih emas, pripih slaka (perak), pripih tembaga serta bahan tambahan lainnya. Kesemua saran tersebut akan didunakan untuk pembuatan tirha pengentas oleh Sang Sulinggih.
Proses pada pembuatan tirtha pengentas yang dilakukan oleh seorang Sulinggih memiliki beberapa tahapan. Ketika segala sarana sudah tersedia, maka yang pertama Sang Sulinggih akan membersihkan diri secara skala niskala dengan menurunkan Dewi Gangga yang disebut ngarga.
Setelah selesai pembersihan diri, dilanjutkan dengan ngili atman berupa menuntun sang atman ke dalam diri. Dilanjutkan dengan dagdi karana yakni pembakaran terhadap sesuatu yang tidak suci dalam diri
Pademi api rahasia yaitu proses mengempaskan segala kotoran. Amerthi karana yaitu mengucurkan tirtha amerta dalam diri. Siwa karana merupakan bentuk sujud kepada alam. Udhakanjali yaitu mewujudkan Dewa Siwa dalam diri. Nuntun Sanghyang Saptakara Atma yaitu menurunkan Sang Hyang Siwa. Ngastawa tirtha yaitu menurunkan Dewi Gangga dengan mengggunakan mantra Gangga
Setelah tahap pertama selesai, kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua yaitu Sang Sulinggih akan memulai dengan membersihkan segala sarana yang ada nantinya digunakan dalam membuat tirtha pengentas.
Usai membersihkan segala sarana dengan mantra tersebut, maka periuk yang sudah disipakna diisi dengan air suci atau tirtha yang sudah dipersiapkan. Selanjutnya ketika sarana untuk tirtha pengentas sudah siap dan bersih secara skala dan niskala kemudian sang sulinggih melaksanakan pangurip terhadap sarana tirtha pengentas.
Penutup yang dilakukan dalam membuat tirtha pengentas yaitu dengan melakukan mudra oleh Sang Sulinggih. Disini Sulinggih memiliki peranan yang penting dalam membuat tirtha pengentas. Sehingga yang berhak membuat tirtha pengentas adalah seorang Sulinggih.
“Tirtha pengentas merupakan salah satu sarana yang paling penting dalam upacara ngaben. Tirtha pengentas digunakan untuk membebaskan sang atman dari segala material yang mengikat sang atma," katanya (dik)
Editor : I Putu Mardika