Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pelinggih Batu Kasur tempat Peraduan Ida Bhatara Dalem Tamblingan

I Putu Mardika • Sabtu, 9 Desember 2023 | 01:41 WIB

 

Pelinggih Batu Kasur di Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Buleleng sebagai tempat peraduan Ida Bhatara Dalem
Pelinggih Batu Kasur di Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Buleleng sebagai tempat peraduan Ida Bhatara Dalem
JEMBRANA EXPRESS-Desa Selat, Kecamatan Sukasada tidak hanya dikenal dengan tradisi naur penempuh. Desa ini juga dikenal memiliki pelinggih berbentuk kasur yang unik dan sangat disakralkan. Batu Kasur ini diyakini sebagai tempat peristirahatan Ida Bhatara Dalem.

Tidak sulit mencari Pelinggih Batu Kasur di Desa Selat. Lokasinya persis di pinggir jalan jalur Desa Selat-Wanagiri tepatnya di tikungan yang berjarak 1 km dari pusat desa dan berada di ketinggian 300 m dari permukaan laut. Jarak tempuh dari pusat kota menuju tempat tersebut adalah 15 km, dan memakan waktu kurang lebih 30 menit.

Keberadaan pelinggih ini ditandai dengan sebuah batu besar, berdiameter 2 meter. Batu tersebut diselimuti dengan kain poleng dan dipayungi oleh tedung warna putih kuning. Suasana sakral semakin dikuatkan dengan tumpukan canang-canang yang dihaturkan pemedek.

Ditambah, pelinggih ini berada di areal hutan Desa Selat yang masih asri, tentu saja kian menguatkan vibrasi spiritualnya. Tak jarang, pemedek kerap singgah bersembahyang ketika sedang melintas. Bahkan, saat purnama-tilem dan hari suci lainnya kerap didatangi oleh pemedek.

Wajar saja dinamakan pelinggih batu kasur. Pasalnya, pelinggih tersebut posisinya menyerupai tempat tidur atau kasur. Uniknya, tidak ada pelinggih pada umumnya. Tetapi hanya berbentuk bebaturan.

Masyarakat Desa Selat memiliki cerita rakyat yang diyakini sebagai mitologi secara turun temurun. Krama meyakini, Ida Bhatara Dalem Tamblingan berstana di atas batu ini. Kemudian dikenal sebagai Kasur atau tempat peraduan

Jro Mangku Ketut Jasi selaku Pemangku Pura Desa Selat menceritakan konon, Ida Bhatara Dalem Tamblingan bersabda dengan pengawalnya dan meminta agar tempat tidurnya dihormati sebagai tempat yang sakral.

Di tengah perjalannya, dikarenakan hari sudah mulai gelap Ida Bhatara Dalem Tamblingan bersama tiga pengawalnya yaitu I Bendesa, I Pasek, dan I Kubayan memilih untuk beristirahat di tempat tersebut.

Saat itu, kebetulan di tempat mereka beristirahat terdapat sebuah batu besar. Ida Bhatara Dalem Tamblingan memerintahkan I Bendesa untuk mengubah batu tersebut sebagai tempat tidur nya yang menyerupai kasur karena ialah yang paling sakti.

“Maka sampai saat ini diyakini sebagai batu yang sangat keramat. Disakralkan dan tidak boleh sembarangan orang menaikinya, karena memang menjadi tempat peraduan Ida Bhatara Dalem Tamblingan,” katanya.

Meski tidak memiliki struktur mandala layaknya pura, namun, ada sejumlah pantangan bagi pemedek yang hendak nangkil. Pemedek yang cuntaka baik karena sebel atau perempuan yang sedang datang bulan dilarang untuk melakukan sembahyang di tempat ini. Hal ini adalah bagian dari keyakinan dan adat yang dipegang  kuat oleh penduduk setempat.

Sementara itu, pada hari raya seperti Galungan dan Kuningan, masyarakat Desa Selat kerap nangkil di pelinggih batu Kasur untuk melaksanakan persembahyangan. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya Batu Kasur bagi masyarakat Selat.

Selain warga Selat, Orang luar juga diperbolehkan untuk menjadi pengunjung. Sarana yang dibawa juga cukup canang sari saat hari purnama dan tilem. Sedangkan saat hari raya keagamaan sarana yang dipersembahkan juga bisa menyesuaikan. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Ida Bhatara Dalem Tamblingan #Desa Selat Sukasada #Pelinggih batu kasur