Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Penyagjagan Desa Catur Kintamani, Penyatuan Hindu dan Konghucu di Catur

I Putu Mardika • Rabu, 13 Desember 2023 | 15:46 WIB

Pura Penyagjagan di Desa Catur, Kintamani Bangli menjadi simbol sinkretisme Hindu dan Konghucu
Pura Penyagjagan di Desa Catur, Kintamani Bangli menjadi simbol sinkretisme Hindu dan Konghucu
JEMBRANA EXPRESS-Pura Penyagjagan Desa Catur, Kecamatan Kintamani layak disematkan sebagai simbol moderasi di Kabupaten Bangli. Di Pura ini terdapat simbol sinkretisme antara Hindu dan Konghucu yang dilandasi dengan sejarah panjang.

I Made Wirta selaku Bendesa Adat Catur menjelaskan nama Pura Penyagjagan berakar dari kata jagjag yang berarti datang. Setelah mendapat awalan pe- dan akhiran -an menjadi pajagjagan, karena adanya perubahan pengucapan menjadi Penyagjagan.

Penyagjagan disini diartikan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan mendekat dan datang. Maksudnya yaitu datang mendekat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasi beliau, baik secara Agama Hindu maupun Agama Konghucu.

Walaupun berbeda keyakinan tetapi dalam artian satu Tuhan Yang Maha Esa pada Pura Penyagjagan diyakini umat Hindu dan Konghucu sebagai tempat untuk saling berbaur menjadi satu menuju satu tujuan.

Pura Penyagjagan diperkirakan sudah ada pada zaman kerajaan Bali Kuno, sedangkan cikal bakal Pura Penyagjagan yaitu diawali dengan penemuan beberapa pertima/arca di lokasi berdirinya Pura Penyagjagan.

Sebelumnya tempat penemuan pertima/arca tersebut merupakan tanah kosong yang tidak terawat, sehingga dibangunlah Pelinggih Arca untuk menstanakan pertima/arca sampai didirikannya sebuah Pura. Pura tersebut kini diberi nama Pura Penyagjagan yang sudah dibangun sejak abad ke-19 di lokasi tersebut.

Pura Penyagjagan mengalami pemugaran yang pertama pada tahun 1947 dan pemugaran yang terakhir pada tahun 2002 hingga sekarang. Pura Penyagjagan ini merupakan Pura tertua di Desa Catur Kintamani disamping beberapa Pura tua yang ada di Desa Catur Kintamani, seperti: Pura Pebini, Pura Padang Nguah, Pura Bukit Sari.

Mithologi atau cerita rakyat mengenai keberadaan Pura Penyagjagan yang berada di Desa Catur Kintamani diyakini umat secara niskala merupakan stana Ida Bhatara Lingsir yang distanakan pada Palinggih Meru Tumpang Solas dan pasimpangan-pasimpangan beberapa gunung di Bali.

Pasimpangan gunung yang dimaksud, diantaranya Pasimpangan Gunung Agung, Pasimpangan Gunung Lebah (Batur), Pasimpangan Puncak Penulisan, dan Pasimpangan Gunung Catur (Antap Saiatau Antap Sari atau Pucak Bon) serta adanya Pelinggih Konco dengan sebutanPelinggih Ratu Subandar.

“Pura Penyagjagan ini perpaduan budaya Hindu dan Konghucu karena pada halaman jeroan Pura terdapat Pelinggih Konco dan pada halaman jaba tengah terdapat Pelinggih Ratu Subandar,” jelasnya.

Konsep keberadaan Pelinggih Konco dan Pelinggih Ratu Subandar menunjukan secara jelas bagaimana sinkretisme ajaran agama Hindu dengan Konghucu sebagai kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Dimana hal ini sudah terjadi sejak lama, ketika masuknya masyarakat Tionghoa ke Desa Catur. Sehingga, Pura Penyagjagan selain sebagai tempat sembahyang, juga menjadi tanda sejarah pertemuan dan penyatuan dua keyakinan yang berbeda.

Made Wirta menambahkan, cerita tentang warga keturunan yang diberi tugas menjaga wilayah perbatasan Bangli, sudah digariskan secara turun-temurun. Tidak ada catatan sejarah yang tertulis mengenai masuknya budaya China di Desa Catur. Masyarakat setempat percaya, keberadaan mereka di Desa Catur sudah lebih dari 300 tahun.

“Mereka memang datang untuk menjaga wilayah perbatasan.Ibaratnya mereka mendapat tugas mengisi wilayah di daerah terluar untuk mengawasi musuh,” paparnya.

Ada pula cerita yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat Konghucu di Desa Catur. Pura sebagai tempat beristirahat dari aktivitas menjaga tersebut. Ketika itu para leluhur mendapat sabda untuk membangun suatu perkampungan.

Lebih dari 300 tahun lalu, hanya dua belas penjaga perbatasan keturunan China harus menghadapi seribu prajurit yang ingin menyerang Kerajaan Bangli di perbatasan Buleleng. Belasan penjaga tersebut yang setia pada raja lalu menyalakan banyak lampion di penjuru desa untuk bisa mengamati musuh. Penjaga atau prajurit lawan malah mengira titik-titik cahaya itu sebagai petanda banyaknya musuh yang harus dihadapi.

“Hal itu menjadikan lawan takut dan membatalkan ekspansi wilayah. Demikian legenda kesetiaan warga etnis Konghucu versi generasi ke-4 marga Lie di Dusun Lampu, Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Konghucu #Desa Catur #sinkretisme #hindu #Pura Penyagjagan