Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tari Baris Bugbug di Pura Dalem Gede Selaungan, Gunakan Tangkai Enau sebagai Tombak

I Putu Mardika • Kamis, 21 Desember 2023 | 16:17 WIB

 

Tari Baris Bugbug di Pura Dalem Gede Selaungan, Kelurahan Cempaga, Bangli yang merupakan tarian sakral
Tari Baris Bugbug di Pura Dalem Gede Selaungan, Kelurahan Cempaga, Bangli yang merupakan tarian sakral
JEMBRANA EXPRESS-Tari Wali Baris Bugbug atau Pugpug yang berasal dari Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, Bangli menjadi tarian sakral yang erat kaitannya dengan Pura Dalem Gede Selaungan. Tarian ini memiliki kostum yang unik serta diyakini sebagai tarian penolak bala.

Tokoh Masyarakat Cempaga, I Wayan Nyepeg menjelaskan, keberadaan tari wali Baris Bugbug tidak bisa dilepaskan dengan sejarah Pura Dalem Gede Selaungan, bahwa spirit tari wali Baris Bugbug telah ada sejak lama, jauh sebelum adanya bangunan pura seperti saat ini.

Bahkan, diyakini jika Tari Wali Baris Bugbug yaitu sudah mulai ada sejak tahun 1200 Masehi dalam bentuk spirit yang masuk kedalam petapakan menjadi kerauhan serta menari begitu saja dengan pola yang bebas. Namun gerak tarian terlihat sama.

Kemudian pada tahun 2019 tarian ini selesai dikonstruksi menjadi karya seni berupa Tari wali Baris Bugbug. Setiap pujawali di Pura Dalem Gede Selaungan, tarian sakral ini dipentaskan sebagai persembahan kepada Ida Bhatara yang berstana di pura ini.

Sebagai sebuah tari sakral, Baris Bugbug memiliki pakem tersendiri dari sisi busana. Baik dari bagian kaki, badan, hingga kepala. Pada bagian kaki Celana panjang lurik (poleng) dengan menggunakan Stiwel dan Lonceng kecil (gongseng)

Pada bagian badan, para penari menggunakan Baju lengan panjang dengan corak lurik (poleng), Kamben berwarna putih, Sabuk (tetekes) pinggang dengan bahan kain, Keris, Saput (awiran) menggantung di seluruh lingkar badan sebagai ciri khas tari Baris, Lamak (awiran) menggantung di bagian badan depan sebagai ciri khas tari Baris dan Sabuk (tetekes) dada dengan bahan kain motif loreng.

Penari juga menggunakan busana seperti Badong (awiran) menggantung di leher sebagai ciri khas tari Baris. Baju lengan panjang dengan corak lurik (poleng), Gelang kana, Lonceng kecil (gongseng).

Pada bagian kepala terdapat Gelungan, yang terdiri keranjang yang dilapisi rambut, kain putih (udeng) dengan lukisan tinta prada, daun pandan, Daun enau (jaka) yang diselipkan di gelungan. Selain itu, ada Bunga dan daun girang sebagai hiasan telinga. Pada bagian wajah, dihiasi Kapur (pamor) yang dioleskan pada pipi dan dagu

“Yang unik itu karena menggunakan sarana tangkai pohon enau (jaka) yang dibentuk menyerupai tombak. Properti pugpug ini memiliki makna sebagai penghubung yang akan menurunkan spirit Ida Bhatara Dalem ketika dilaksanakan upacara piodalan,” ungkapnya.

Pugpug tersebut diyakini memiliki kekuatan yang khusus untuk membersihkan segala kekotoran yang ada di alam semesta termasuk pada diri masyarakat. Tidak mengherankan, jika tarian ini sebagai penetralisir energi negatif.

Tarian ini juga memiliki Gerakan-gerakan khusus. Setiap gerakan memiliki makna tersendiri.

Tidak mengherankan jika Tari Baris Bugbug diyakini sebagai pasukan dari Ida Bhatara Dalem yang turun ke dunia. Kesan kewibawaan dan barisan yang rapi mencerminkan sikap kesatria perang yang Tangguh

“Tari Baris Bugbug sebagai media pertemuan antara alam sekala dan niskala sehingga muncullah sebuah energi para Dewata yang kuat di Pura Dalem Gede Selaungan sehingga mampu membuka setiap nurani masyarakat secara spiritual untuk merasakan energi Dewata tersebut,” katanya.

Saat pentas, penari Baris Bugbug yang menghadap ke masing-masing penjuru arah mata angin mengisyaratkan sebagai Penjemput dan menyambut kedatangan Para Dewata Nawa Sanga. Dewata Nawa Sanga yang turun dari swah loka (alam atas) yaitu alam para Dewata menuju ke alam tengah (bwah loka) yaitu ke alam manusia. Secara teologis, makna yang terkandung adalah bertemunya Dewa Siwa dan Dewi Durgha.

Siwa disimbolkan dengan penari yang berada ditengan dengan pancaran energi menuju arah masing-masing diagonal. Sedangkan energi Durgha disimbolkan dengan penjuru arah mata angin yang disebut dengan energi panca Durgha

Kekuatan seluruh Dewata juga terpancar melalui kelompok besar yang terdiri dari 15 orang penari. Kekuatan Siwa yang bersinergi dengan kekuatan Durgha diturunkan ketika melakukan piodalan di Pura Dalem Gede Selaungan dan disertai juga dengan pancaran kekuatan Ida Bhatara Kabeh.

Ketika mengadakan ritual piodalan di Pura Dalem Selaungan, energi para Dewata seluruhnya akan perpusat pada Siwa-Durgha sebagai Ista Dewata yang di puja di Pura Dalem Gede Selaungan.

“Melalui Dewa Siwa-Durgha para Dewata ikut memberikan anugrah ketika umat melakukan kegiatan ritual suci. Jadi upacara (banten) yang dihaturkan bukan kepada Ida Bhatara Dalem saja, tapi kepada seluruh Ida Bhatara atau yang biasa disebut dengan Dewa Samodaya,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Dalem Gede Selaungan #tari wali #Baris Bugbug