Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika mengatakan, kata Landep dimaknai sebagai ketajaman, sehingga dimaknai sebagai momentum untuk memperingati segala hal yang tajam dan runcing.
“Makna secara filosofis dari arti tajam adalah pikiran. Atau Landeping idep. Sehingga yang dipertajam adalah pemahaman, wawasan dan pengetahuan agar tetap diasah dengan belajar,” ujarnya, Sabtu (30/12) siang.
Dalam implementasinya, umat Hindu di Bali merayakan tumpek landep dengan membuatkan upacara seperti berbagai macam pusaka warisan dari para leluhur yang dikeramatkan. Seperti keris,tumbak, pisau, sabit, dan senjata lainnya.
“Semua tujuan upacara itu dihaturkan kepada manifestasi Tuhan Yang Maha Kuasa yang menguasai semua senjata atau peralatan seraya memohon kepada Sang Hyang Pasupati agar semua peralatan itu bertuah,” paparnya.
Tak hanya beragam jenis senjata, perayaan Hari Tumpek Landep tak dipungkiri mengalami pergeseran terhadap alat-alat yang terbuat dari logam. Seperti alat elektronik, kendaraan, perabot rumah tangga, yang digunakan dalam aktifitas sehari-hari.
Pemberian banten pada benda-benda tersebut memiliki makna agar Sang Hyang Pasupati berkenan memberikan anugerah terhadap benda-benda tersebut agar mempermudah jalan hidup pemiliknya saat digunakan.
“Tumpek Landep mengajarkan kita agar senantiasa merawat dan memelihara segala perlengkapan dan sarana yang menunjang kehidupan manusia, agar mampu menghadapi perkembangan modernisasi yang serba cepat, tepat dan akurat,” imbuhnya.
Manusia menggunakan ketajaman Jnana yakni pikiran, idep, logika dan ilmu pengetahuannya sehingga berhasil mengolah logam-logam yang dipergunakan untuk melancarkan usahanya dalam menunjang kehidupan sehari-hari.
Peringatan Tumpek Landep ini mengandung makna bahwa manusia harus selalu sadar untuk mengasah ketajaman batinnya. Diharapkan dengan ketajaman batin tersebut akan terbangun sifat dan sikap hidup yang peka terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.
Kepekaan terhadap masalah sosial akan menyebabkan keperdulian terhadap masalah-masalah sosial seperti masalah kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya. Ketajaman pikiran diartikan sebagai sebuah penghanyatan agar dapat berjalan pada jalan yang benar.
“Masalah sosial seperti kemiskinan membuat kita harus semakin peka terhadap lingkungan. Kita bisa terjun untuk membantu sesama. Bisa juga terlibat dalam aksi sosial dengan berbagai ilmu pengetahuan kepada orang lain, sebagai wujud kepekaan sosial,” katanya.
Ia menyebut, manusia harus menjadikan pikiran sebagai sumber kebahagiaan dengan mengendalikannya. Menurutnya, manusia harus menjadi joki bagi kuda-kuda pikirannya yang mengarahkan ke arah yang baik.
“Jangan biarkan kuda-kuda pikiran yang mengarahkanmu menuju kesengsaraan pikiran. Di sini penajaman pikiran perlu dilakukan untuk meluruskan fungsi dan kegunaan alat-alat yang digunakan untuk kehidupan tersebut jika ada yang melenceng dari jalur penggunaannya,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika