Seperti Pura Puseh Pejana yang terletak di sebelah barat desa, Pura Munduk di sebelah timur desa, Pura Rambut Tunggang di sebelah utara desa dan pura Bale Agung yang posisinya terletak di tengah-tengah desa.
Khusus Pura Munduk, terletak di bukit sebelah timur Desa Sidetapa. Nama pura ini berkaitan dengan tempatnya yakni di munduk atau tempat yang tinggi dari palemahan Desa Sidetapa. Pura Munduk terdiri dari tiga bangunan sakapat sari. Nama dewa yang dipuja di pura ini ialah Dewa Ayu Mas Mangraronce, yang diyakini sebagai penguasa kesuburan tanaman pala bungkah dan pala gantung atau tanaman perkebunan dan tegalan.
Banten yang dipersembahkan pada setiap piodalannya adalah berupa banten Bali taksu dan banten berupa hasil panen buahbuahan jika sedang musim panen buah-buahan di Desa Adat Sidetapa.“Dewi yang dipuja di sini identik dengan Dewi Laksmi. Hal ini bertambah jelas jika dilihat hari piodalan di pura ini pada hari Sanicara Kliwon Wariga yang dikenal sebagai Tumpek Pengatag atau Tumpek Uduh, ungkapnya.
Lain lagi dengan Pura Rambut Tunggang. Pura ini terletak di sebelah timur laut Desa Sidatapa dekat dengan jalan masuk desa, letaknya di atas perbukitan sebelah timur jalan masuk dari Desa Dencarik dan Tampekan. Pura ini merupakan tempat pemujaan Rsi Markandeya tokoh pemimpin masyarakat Bali Mula (Aga) pada waktu datang ke Bali.
Menurut mitos masyarakat Sidatapa, bahwa ketika Rsi Markandeya datang ke Bali, beliau pernah tinggal dalam waktu lama di Alas Suter Bangli. Sebelum beliau meninggalkan Alas Suter Bangli, beliau berpesan kepada para pengikut setianya, agar selalu ingat dan menjunjung tinggi ajaran-ajaran yang telah beliau ajarkan, beliau menganugrahkan rambut beliau, dengan disertai pesan agar kemanapun mereka pergi hendaknya rambut itu tetap dibawa.
Salah satu kelompok dari pengikut Rsi Markandeya ada yang pindah atau bermigrasi ke daerah Tegal Mendung dengan membawa rambut sang Rsi. Rambut sang Rsi, kemudian ditempatkan (unggahang) pada cabang sebuah pohon besar. Pohon dan tempat menaruh rambut sang Rsi ini, kemudian diberi nama Pura Rambut Unggahang.
Namanya kemudian mengalami perubahan menjadi Pura Rambut Tunggang. Pada awalnya pura ini merupakan kumpulan megalit yang berserakan di bawah pohon-pohon besar tanpa tembok pembatas. Seiring perubahan, struktur pura mengalami perubahan, ada tembok penyengker, bangunan megalit diganti dengan bangunan bentuk sakapat sari dan mandala pura dibagi menjadi tiga mandala yakni jabaan, jaba tengah dan jeroan serta pintu masuk berupa candi bentar.
Di sisi lain, maysrakat Sidatapa tidak memiliki Pura Dalem di Setra. Bahkan di Setra sama sekali tidak ada pemujaan. Sehingga jika ada orang meninggal maka akan cukup dikubur di setra dan diberikan bekel dan Banten Bali Taksu. “Pertimbangan leluhur kami karena di Pura Bale Agung ini sudah sangat lengkap. Kami mengenal dengan istilah ngubeng di Pura Bale Agung,” katanya lagi.
Sebagai desa tua, saat Galungan dan Kuningan di Sidatapa sebut Wireyasa juga tidak memenjor. Pasalnya di dalam rumah adat warga Sidatapa sudah terdapat pelangkiran, yang sehari-hari sebagai pelinggih sang Hyang Kumara.
“Yang dipersembahkan juga buah-buahan. Itulah sama dengan penjor, yang tujuannya dihaturkan untuk pemilik sarwa tumbuh atau Jeng Bala-Bulu, dewa penguasa tumbuhan. Sehingga tidak perlu lagi memenjor,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika