I Ketut Sukarta mengatakan, Luas setra ari-ari tersebut sekitar 60 are. Ari-ari bayi yang baru biasanya digantung dipohon yang berada dipinggir-pinggir hutan sehingga mudah untuk dilihat. Adapun cara membawa ari-ari bayi tesebut menuju kesetra yaitu, membawa dari rumah memakai tangan kiri. Di samping itu juga membawa peralatan untuk memotong cabang pohon yang akan dijadikan tempat menggantunggkan ari-ari.
Dikatakan Untuk membawa ari-ari dari rumah ke setra ari-ari biasanya dilakukan oleh orang tua bayi yang diikuti oleh sanak keluarga. Setelah sampai di setra ari-ari salah seorang yang dituakan meminta ijin kepada penunggu setra dengan menggunakan sarana berupa sesajen dan canang.
Setelah menghaturkan sesajen dan canang, ari-ari bayi yang dibungkus dengan tempurung kelapa dan sudah diikat dengan tali tabu di bawa ketempat lokasi yang telah disediakan. Dalam menggantungkan ari ari harus pada pohon yang bernama pohon bukak.
Untuk menghindari terjadinya bau busuk terhadap ari-ari bayi yang digantung pohon bukak, maka yang dipilih haruslah yang bedekatan dengan pohon menyan di areal tersebut. Pohon menyan akan menetrasilis bau busuk yang ditimbulkan dari proses biologis yang dialami oleh ari-ari bayi yang baru lahir.
“Pohon bukak merupakan pohon yang berbuah kembar sehingga disanalah digantung ari-ari bayi tersebut. Dalam menggantungkan ari-ari bayi tersebut dengan memakai tangan kanan,” katanya lagi.
Menggantung ari-ari ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik laki-laki mapun permpuan, tetapi tetap harus menggunakan tangan kanan. Setelah selesai menggantungkan kemudian mencari kayu bakar untuk dibawa pulang yang bermakna agar kelak bayinya rajin bekerja.
“Termasuk mencari 3 batang daun paku untuk dipakai tanda yang ditaruh didepan pintu gerbang masuk sebagia tanda bahwa orang tersebut mempunyai anak dan daun paku yang masih muda (sayur-sayuran) yang kemudian dimasak supaya bayinya pintar masak,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika