Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Jejak Besar Mpu Kuturan Membangun Peradaban Bali Satukan Sekte-Sekte di Bali, Bentuk Desa Pakraman  

I Putu Mardika • Minggu, 7 Januari 2024 | 19:08 WIB

 

Arca Mpu Kuturan di Pura Silayukti, Karangasem
Arca Mpu Kuturan di Pura Silayukti, Karangasem
JEMBRANA EXPRESS-Jika mendengar nama Mpu Kuturan tentu bayangan kita dibawa kepada tokoh suci yang membangun peradaban Bali pada jaman dahulu. Sebagai tokoh besar pada zamannya, banyak naskah-naskah lontar yang menyebut nama Mpu Kuturan.

Nama Mpu Kuturan diabadikan dalam sejumlah lontar. Seperti dalam Lontar Indik Parahyangan (perihal membangun bangunan suci), Lontar Dharma Pamaculan (perihal pedoman dalam bercocok tanam, irigasi, membangun bendungan dan ritual serta kalender pertanian terkait), Lontar Kusuma Dewa (pedoman pemujaan dan etikakependetaan/kapamangkuan), Lontar Taru Pramana (perihal tumbuhan obat atau resep-resep herbal), Lontar Keputusan Kuturan (ajaran-ajaran Mpu Kuturan lainnya yang terkait kearifan lokal dan ajaran kebatinan).

Nama beliau juga disebut dalam berabagi teks Prasasti. Seperti Prasasti Dadya Pajenengan, Prasasti Pasek Bandesa, Prasasti Bwahan, Prasasti Pengotan çaka 1103/1181 Masehi, Prasasti Selat, çaka 1103/1181, Prasasti Selumbung, çaka 1250/1328, Prasasti Batuan, tahun çaka 944/1022 Masehi, Prasasti Serai çaka 915/993 Masehi, dan  Prasasti Langgahan çaka 1259/1337 Masehi.

Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardhiyasa, mengatakan, merujuk Lontar Usana Bali Mpu Kuturan adalah seorang pendeta atau rohaniawan berasal tanah Jawa. Sedangkan dari referensi lain menyebutkan keberadaan Mpu Kuturan bersaudara kandung dengan Mpu Genijaya, Mpu Ghana, Mpu Semeru, Mpu Bharadah.

“Mereka hidup pada zaman pemerintahan Airiangga tahun 1019. Karena seorang resi (pertapa) berusaha hidup melepaskan keterikatan duniawi dan hidup dari hasil pajak kerajaan,” ujar Suka yang juga meneliti tentang jejak Mpu Kuturan dalam berbagai teks.

Dikatakan Suka, sebelum mengenal sistem Tri Kahyangan kehidupan masyarakat Bali mengenal 6 sekta besar yang hidup dan berkembang. Diantaranya sekte Sambu, Brahma, Indra, Wisnu, Bayu, dan Kala.

Sekte Sambu misalnya bercirikan pada penyembahan arca, ketika mati mereka diupacarai dengan daun pepetan ketan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat harus ditanam seketika. Kemudian Sekte Brahma, menyembah Ida Sang Hyang Surya/Ida Sang Hyang  Agni. Penganut sekte ini menggunakan air delima sebagai pembersih mayat. Mayat penganut sekte ini dibakar.

Sekte Indra, penganut menggunakan gunung dan bulan sebagai stana dewa. Penganut sekte ini menggunakan air beras untuk memebersihkan mayat.  Mayat penganut sekte ini ditanam di jurang yang berisi goa. Sekte Wisnu, penganut biasanya memiliki tradisi upacara meminta hujan. Mayat penganut sekte ini biasanya dibersihkan dengan air yang berisi bunga-bungaan. Abu jenazah penganut sekte ini dihanyutkan ke sungai atau samudra.

Sekte Bayu, penganutnya memandang angin dan biantang sebagai ciri-ciri kehadiran dewa  pujaannya. Mereka biasanya menggunakan air hujan sebagai sarana pembersihan   mayat. Mayat penganut sekte ini ditaruh begitu saja di sebuah tempat hingga hancur oleh angin. Penganutnya hingga kini masih terdapat di desa Trunyan-Kintamani.

Sekte Kala, penganut sekte ini sangat banyak di Bali. Pemujaan terhadap ratu Geda Mecaling dan sejenisnya merupakan peningggalan Sekte ini. Mereka biasanya menggunakan daun bidara dalam upacara kematiannya.

“Dulu, sebagian masyarakat Bali ada yang menganut Budhisme ketika itu. Sehingga  sebenarnya  secara  umum, terdapat tiga kepercayaan besar berkembang pada masa itu. Yaitu Hindu, Budha dan kepercayaan lokal,” imbuhnya.

Banyaknya sekte di Bali rupanya membuat kehidupan sosial agama menjadi tak harmonis. Atas kondisi itu,  Raja Airlangga pada tahun Saka 910 (988 M) kemudian mengutus Senapati Kuturan untuk mengatasi kekacauan yang terjadi di Bali. Beliau kemudian bertemu  dengan Raja-Raja Udayana Warmadewa dan Ratu Gunapriya Dharmapatni.

Mpu Kuturan dalam catatan perjalanannya kemudian mengundang semua pimpinan sekte. Pertemuan dilakukan di Bata anyar atau Samuan Tiga. Pertemuan ini mencapai kata sepakat dengan keputusan Tri Sadaka dan Kahyangan Tiga.

Keputusan pertama, paham dijadikan dasar di Bali, yang berarti di dalamnya telah mencakup seluruh paham sekte yang berkembang di Bali saat itu. Kedua, dalam setiap Desa Pakraman (Desa Adat) supaya dibangun Kahyangan Tiga, yaitu : Pura  Bale Agung, Pura  Puseh dan Pura Dalem.

Ketiga, dalam  setiap  rumah  tangga  supaya di dirikan Rong Tiga  sebagai  tempat memuja Tri MurtiBrahma di mang kanan, Wisnu di mang kiri dan di tengah adalah Siwa sebagai Maha Gum atau Bhatara GumRong Tiga itu selain sebagai tempat memuja Tri Murti, juga difungsikan untuk memuja roh leluhur.

Ruang kanan untuk memuja leluhur laki-laki (purusa), mang kiri untuk memuja leluhur wanita (pradana) sedangkan mang di tengah-tengah untuk memuja leluhur yang sudah menyatu dengan Bhatara Gum

Wilayah Bali lambat laun kemudian kembali tentram. Masing-masing sekte saling menjaga toleransi antara satu dengan lainya. Ini berkat kesuksesan Mpu Kuturan sebagai pimpinan dalam pertemuan tersebut yang menghasilkan keputusan yang mampu mengakomodir semua sekte.

“Salah satu yang hingga dikenal hingga saat ini adalah pemujaan Tri Sadaka dalam hal ini adalah Warna Brahmana Siwa-Budha-Waisnawa, bukan Pedanda dari soroh, wangsa, keturunan pemuja Siwa, Budha ataupun waisnawa, melainkan setiap orang yang menjadi Sulinggih adalah seorang Sadaka,” jelas pria yang juga dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Tokoh #Tri Kahyangan #desa pakraman #sekte #mpu kuturan