Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Jejak Besar Mpu Kuturan Membangun Peradaban Bali, Perluas Kawasan Suci Besakih, Prakarsai Upacara Ngenteg Linggih

I Putu Mardika • Senin, 8 Januari 2024 | 15:45 WIB

 

Arca Mpu Kuturan di Pura Silayukti, Karangasem
Arca Mpu Kuturan di Pura Silayukti, Karangasem
JEMBRANA EXPRESS-Tak hanya menyatukan sekte-sekte dan merintis Desa Pakraman di Bali, Mpu Kuturan juga berjasa dalam memperlus dan memperbesar kawasan suci Besakih dengan menciptakan Pelinggih Meru dan Gedong.

Beliau juga mendirikan sejumlah pura di Bali, seperti Pura Silayukti, Pura Samuan Tiga, Pura Sakenan, Pura Watu Klotok, Pura Uluwatu hingga addanya Pelinggih Menjangan Seluang disetiap Sanggah Kawitan di Bali.

Nyoman Suka Ardhiyasa yang juga peneliti rekam jejak Mpu Kuturan dari berbagai sumber lontar mengatakan, Mpu Kuturan merupakan tokoh yang sangat berjasa dalam melakukan perluasan Kawasan Suci Pura Besakih. Beliau memperluas Pura Besakih dengan menambah susunan beberapa Pelinggih dan menambahkannya dengan beberapa Pelinggih baru.

Susunan pura didasarkan atas adanya kelompok pura pertama di bawah Pura Penataran Agung disebut sasoring ambal-ambal dan ke dua Pura di atas Pura Penataran Agung disebut saduhuring ambal-ambal.

Pura yang paling di bawah atau di depan adalah Pura Pesimpangan. Pura yang paling tinggi letaknya adalah Pura Tirtha. Pura Peninjoan adalah tempat yang dipergunakan oleh Mpu Kuturan untuk meninjau komplek Pura Besakih pada waktu diadakan perluasan. Jika dilihat dari etimologi kata Peninjoan berarti tempat untuk meninjau atau mengamati. Pura ini terletak sekiatr 1000 meter sebelah Barat Pura Penataran Agung.

Adapun pura yang ditinjau tersebut adalah 18 Pura sebagai berikut : Pura Penataran Agung, Pura Batu Madeg, Pura Kiduling Kreteg, Pura Gelap, Pura pengubengan, Pura Tirtha, Pura Peninjoan, Pura Hyang Aluh, Pura Basukian, Pura Banua, Pura Mra'jan kanginan, Pura Pura Merajan Selonding, Pura Gua, Pura Ulun Kulkul, Pura Bangun Sakti, Pura Manik Mas, Pura Dalem Puri dan Pura Pesimpangan

“Beliau (Mpu Kuturan, Red) juga yang mengajarkan pembuatan kahyangan secara spiritual, termasuk pembuatan jenis-jenis pedagingan untuk tempat suci,” ujarnya.

Guna menjaga ketentraman masyarakat Bali, Mpu Kuturan mendirikan dan menyempurnakan Pura Kahyangan Jagat yang berjumlah delapan buah. Diantaranya Pura Besakih, Lempuyang, Andakasa, Goa Lawah, Batukaru, Beratan, Batur, dan Uluwatu.

Selain itu Mpu Kuturanlah yang memprakarsai upacara ngenteg linggih atau yang sering disebut ngelinggihang (menstanakan) Dewa Pitara (roh suci leluhur) di sanggah atau pemrajan pada rong tiga (kemulan).

Pelinggih Rong Tiga juga berlaku untuk tempat suci memuliakan Tuhan yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Kahyangan Tiga keluarga dalam fungsi Beliau sebagai penguasa  dari penciptaan, pemelihaaran, dan pengembali ke unsur Panca Maha Butha, yang tersimbolisasi dari Dewa Brahma, Sri Wisnu, dan Dewa Siwa.

Konsep  bangunan Meru juga di perakarsai oleh  Mpu Kuturan di sebut perlambang dari gunung Mahameru, tempat kediaman  para  dewa.  Di Bali meru tidak hanya bertumpang 3, melainkan dari tumpang 1 sampai tumpang 11. Dimana, tumpang meru selalu ganjil, kecuali tumpang 2. Jadi ada tumpang 1, 2, 3, 5, 7, 9 dan 11.

Kenyataan membuktikan di Bali menurut fungsinya meru dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu sebagai Dewa Prathista atau pelinggih dewa dan meru selaku atma pratistha atau sebagai pelinggih roh suci. Perbedaan dari kedua jenis Meru ini terletak pada sikutnya (ukurannya) seperti ditentukan pada lontar asta kosala-kosali.

Meru beratap sembilan aksara suci simbol Nawa Dewata (Sanga Dewata). Meru beratap tujuh lambang tujuh aksara suci, simbol Sapta Dewata, Meru beratap lima merupakan lambang lima aksara suci, simbol Panca Dewata.

Meru beratap tiga lambang tiga aksara suci, simbol dari Tri Purusa.  Meru beratap dua lambang dua aksara suci, simbol rwa bhineda atau purusa pradana. Sedangkan meru beratap satu merupakan lambang dari panunggalan  seluruh aksara menjadi Om, simbol Sang Hyang Tunggal. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Besakih #Meru #desa pakraman #sekte #mpu kuturan #gedong