Dikatakan Perbekel Nyoman Diantara, prosesi dimulai dari nista mandala. Bagian ini merupakan areal paling luar dari pura yang merupakan jaba pisan (halaman luar) yang dianggap oleh masyarakat Desa Subaya areal yang tidak suci.
Sehingga pada halaman tersebut saat upacara naur kelaci digunakan sebagai tempat untuk menimbang babi yang akan digunakan sarana upacara naur kelaci, memerciki air suci kepada babi tersebut, dan penyembelihan kurban babi tersebut.
Selanjutnya memasuki areal madya mandala yaitu jaba tengah (areal tengah pura) yang dianggap oleh masayarakat setempat sebagai tempat berakitifitas keagamaan. Tempat tersebut sudah termasuk areal yang suci.
“Pada saat upacara naur kelaci tempat tersebut dipergunakan sebagai tempat untuk membuat banten kelaci, penimbangan bumbu-bumbu dapur, perebusan daging babi yang telah disembelih tadi, penyusunan banten kelaci, dan sebagi tempat pembagian kawesan setelah upacara naur kelaci usai dilaksanakan,” katanya lagi.
Sedangkan tempat terakhir yang dipergunakan dalam upacara naur kelaci yaitu pada bagian utama mandala. Halaman ini merupakan areal yang paling suci dari Pura Bale Agung. Pada saat upacara naur kelaci tempat tersebut dipergunakan sebagai tempat terakhir dalam rangkaian upacara naur kelaci yaitu, untuk tempat matur piuning.
“Selain itu sebagai tempat menghaturkan sesajen naur kelaci seperti banten urip dan sarana lainnya yang dipersembahkan. Termasuk digunakan untuk tempat persembahyangan oleh para masyarakat yang membayarkan kelaci,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika