Secara struktur, terbagi menjadi tiga mandala, yakni nista, madya dan utama. Di bagian nista mandala terdapat Wantilan yang dijadikan sebagai tempat istirahat para pemedek yang nangkil.
Melangkah ke bagian Madya Mandala, suasana kian hening dan sejuk. Pohon Beringin begitu tertata. Sebelum memasuki areal Utama Mandala pemedek wajib mesirat tirta untuk menyucikan diri.
Di bagian utama mandala, puluhan pohon cempaka tertanam rapi di areal pura. Sehingga pemedek kian nyaman saat sembahyang. Terdapat pula sebuah pelinggih Padmasana sebagai pelinggih utama.
Romo Mangku Tukimun Haryanto, 82 mengatakan dibangunnya Pura Agung Blambangan tidak terlepas dengan perkembangan umat Hindu di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.
Peningkatan jumlah Umat Hindu di kawasan itu mulai terlihat setelah tahun 1967 ke atas. Perlahan tapi pasti, pertumbuhan yang signifikan rupanya tidak diiringi dengan pembuatan tempat ibadah. Kondisi itu membuat mereka putar otak memikirkan tempat persembahyangan. “
Romo Mangku Tukimun menceritakan, berdasarkan catatan sejarah, keberadaan Pura Agung Blambangan memang erat dengan sejarah kerajaan Blambangan yang dulunya disebut dengan istilah umpak songo. Umpak songo adalah tumpukan batu berlubang mirip penyangga tiang bangunan yang berjumlah sembilan.
Umpak berarti tangga dan songo berarti sembilan. Umpak Songo merupakan situs sisa Kerajaan Blambangan ketika ibukota kerajaan pindah ke Ulupampang yang kini dikenal sebagai kota Muncar.
Situs umpak Songo adalah runtuhan bangunan yang menyisakan 49 batu besar dengan sembilan batu diantaranya memiliki lubang pada bagian tengah yang diduga berfungsi sebagai penyangga atau umpak. Situs ini dulunya digunakan sebagai balai pertemuan antara Bupati Blambangan, Raden Tumenggung Wiraguna dengan bawahannya.
Umpak Songo ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Blambangan. Umpak Songo ini terbengkalai sejak Raden Tumenggung Wiraguna memindahkan ibukota Blambangan ke lokasi yang sekarang menjadi pendopo Kabupaten Banyuwangi pada tahun 1774.
Dengan tidak terawatnya umpak songo, akhirnya umpak songo mengalami kerusakan dan menyebabkan ruhtuhnya umpak songo. Reruntuhan itu ditemukan kembali oleh mbah Nadi Gede, pada tahun 1916-an saat membabat hutan dalam kondisi tertimbun. Ketika tanah digali bentuk reruntuhan ini lebih menyerupai sebuah candi.
Umpak songo memiliki daya tarik tersendiri bagi pemeluk Hindu. Puncak ramainya Umpak Songo pada saat hari raya kuningan dimana pemeluk hindu di Bali dan kota-kota lain berdatangan ke situs Umpak Songo tersebut.
“Nah sejarah Pura Agung Blambangan dimulai pada saat dilakukan pemindahan tempat peribadatan umat Hindu di umpak songo. Pemindahan tersebut dilakukan kerena umpak songo dirasa kurang memadahi umat yang begitu banyak pada saat persembahyangan,” jelasnya.
Maka, keluarga umat Hindu pada tahun 1967 keluar mencari tempat pengganti tidak jauh dari situs umpak songo. Dilahan kosong tersebut para umat Hindu melakukan penggalian. Pada saat penggalian dilakukan oleh orang-orang tersebut, mereka menemukan sumber mata air atau sumur yang dipercaya ada kaitannya dengan umpak songo. Dan warga umat Hindu mempercayai bahwa sumur tersebut adalah peninggalan kerajaan Blambangan.
Ajaibnya lagi, berselang beberapa tahun kemudian saat para umat hindu akan melakukan perluasan jeroan dan pelataran pura, sumber lainnya kembali muncul. Air menyembur dari tanah saat warga melakukan penggalian untuk bangunan kori agung atau pintu utama pura.
Di sini sebenarnya ada dua, tapi yang satu tertutup karena tepat dibangun kori agung. Sementara, satu sumber lainnya juga muncul berada di jaba pura atau bagian luar pura ini. Lima sumber yang muncul di dalam kawasan Pura Agung Blambangan ini diyakini memiliki aura suci.
Bahkan, tak hanya sebagai pelengkap ritual tapi juga memiliki kekuatan karena berkhasiat menyembuhkan penyakit dan hal-hal lainnya bagi mereka yang mempercayainya. Sumur inipun menjadi tempat yang disucikan.
“Anehnya setiap dibangun kok menemukan sumur. Jadi bangun kori agung juga menemukan sumur dua. Yang satu persis di tengah bangunan, yang satu ada juga sumur disampingnya yang sekarang digunakan penglukatan. Pas membangun wantilan sekitar tahun 1993-1994 juga menemukan sumur dua buah. Sehingga total ditemukan tujuh sumur ditemukan. Namun dan dua diutup. Sehingga sisa lima sumur,” ungkap Romo Tukiman. (dik)
Editor : I Putu Mardika